Connect with us

EKBIS

Harga Minyak Terbang Tinggi Usai Serangan Iran ke Israel

Aktualitas.id -

Harga minyak dunia terbang tinggi, foto: aktualtas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Konflik Timur Tengah kembali mengguncang pasar global. Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Asia, Senin (8/6/2026), setelah Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel sebagai balasan atas serangan militer Israel di pinggiran Beirut, Lebanon.

Eskalasi terbaru ini langsung memicu kepanikan di pasar energi internasional. Investor berbondong-bondong memburu aset energi karena khawatir konflik akan meluas dan mengganggu pasokan minyak global.

Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 2,6 persen hingga menyentuh kisaran USD95,49 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melesat sekitar 2,4 persen ke level USD92,70 per barel.

Data perdagangan terbaru bahkan menunjukkan Brent sempat menyentuh USD95,76 per barel, sedangkan WTI menembus USD93,11 per barel. Lonjakan ini terjadi hanya beberapa jam setelah rudal-rudal Iran ditembakkan ke arah wilayah utara Israel.

Pasar sebelumnya sempat berharap ketegangan di Timur Tengah mereda setelah gencatan senjata yang berlangsung sejak April. Namun harapan tersebut runtuh seketika ketika Iran dan Israel kembali terlibat aksi saling serang yang disebut sebagai pelanggaran paling serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Ketakutan terbesar pasar bukan hanya soal perang, tetapi potensi gangguan terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia.

Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati jalur sempit tersebut setiap hari. Jika konflik meluas dan mengganggu lalu lintas kapal tanker, harga minyak berpotensi melonjak jauh lebih tinggi dalam waktu singkat.

Pelaku pasar kini mulai menghitung skenario terburuk. Bukan hanya ancaman perang regional yang menjadi perhatian, tetapi juga kemungkinan terganggunya pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia yang selama ini menjadi salah satu pemasok energi terbesar dunia.

Situasi semakin rumit karena kenaikan produksi yang telah disepakati OPEC+ dinilai belum cukup untuk menenangkan pasar. Meski kelompok produsen minyak itu berencana menambah produksi pada Juli mendatang, ketegangan geopolitik berisiko menghapus seluruh dampak positif dari tambahan pasokan tersebut.

Di tengah gejolak yang terus meningkat, laporan media Amerika Serikat menyebut Presiden Donald Trump disebut berupaya menahan Israel agar tidak melakukan serangan balasan yang lebih besar terhadap Iran. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang terbuka yang dapat mengguncang ekonomi global.

Kenaikan harga minyak kali ini menjadi alarm baru bagi dunia. Jika konfrontasi Iran dan Israel terus berlanjut, bukan hanya pasar energi yang terkena dampaknya, tetapi juga inflasi global, harga bahan bakar, biaya logistik, hingga pertumbuhan ekonomi banyak negara.

Dengan Brent yang kini semakin mendekati level psikologis USD100 per barel, dunia kembali menghadapi ancaman krisis energi yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi guncangan ekonomi berskala global.(Firman/Mun)

TRENDING