EKBIS
Minyak Dunia Tembus USD91/Barel
AKTUALITAS.ID – Gejolak di Timur Tengah kembali mengguncang pasar dunia. Harga minyak mentah melonjak tajam pada perdagangan awal Asia, Senin (20/7/2026), setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan pasokan energi global.
Pasar bereaksi cepat terhadap meningkatnya aksi militer kedua negara. Kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia—langsung mendorong aksi beli di pasar energi.
Mengutip data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2026 melonjak menjadi US$84,41 per barel, naik 2,33 persen dibandingkan penutupan akhir pekan. Lonjakan tersebut membawa WTI ke level tertinggi dalam lebih dari satu bulan.
Sementara itu, menurut Investing, kontrak berjangka Brent sempat melesat hampir 3 persen hingga US$90,75 per barel, bahkan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari lima pekan. WTI juga menguat sekitar 2,5 persen ke US$83,85 per barel.
Data Refinitiv per pukul 09.20 WIB menunjukkan harga Brent berada di US$85,72 per barel, naik 1,17 persen, sedangkan WTI menguat ke US$80,12 per barel, atau naik hampir 1 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Lonjakan harga dipicu laporan bahwa militer AS kembali melancarkan operasi terhadap sejumlah target di Iran pada Minggu malam. Di sisi lain, Iran juga dilaporkan meningkatkan serangan di kawasan Teluk, sehingga memperbesar kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan penghasil minyak terbesar di dunia.
Ketegangan meningkat setelah serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania yang dilaporkan menewaskan sedikitnya dua personel militer AS dan melukai sejumlah lainnya. Peristiwa tersebut memperbesar risiko eskalasi konflik yang lebih luas.
Perhatian investor kini tertuju pada Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi militernya bertujuan melemahkan kemampuan Iran yang dinilai digunakan untuk mengancam kapal-kapal di jalur tersebut.
Jika ketegangan terus meningkat dan mengganggu arus distribusi minyak, pasar memperkirakan harga energi dapat tetap berada di level tinggi. Kondisi itu berpotensi memengaruhi biaya transportasi, inflasi, dan harga bahan bakar di banyak negara, termasuk negara-negara pengimpor minyak.
Meski demikian, arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan masih akan sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan respons para pelaku pasar terhadap setiap perkembangan terbaru. Penting untuk membedakan antara pergerakan harga yang dipicu sentimen jangka pendek dan gangguan pasokan yang benar-benar terjadi. (Firman/Mun)
-
NASIONAL20/07/2026 07:00 WIBEddy Soeparno Desak Reformasi Pengelolaan Sampah dari Hulu
-
JABODETABEK20/07/2026 05:30 WIBBMKG Ramal Hujan Ringan Guyur Jantung Ibu Kota Hari Ini
-
POLITIK20/07/2026 13:00 WIBPDIP Desak BGN Buka Data Kader yang Diduga Terlibat MBG
-
NUSANTARA20/07/2026 08:30 WIBHujan Tak Henti, Tapanuli Tengah Lumpuh Diterjang Banjir
-
NASIONAL20/07/2026 11:00 WIBDPR Minta Hotman Stop Bawa Nama Prabowo di Kasus Febrie
-
DUNIA20/07/2026 12:00 WIBMojtaba Khamenei: Amerika Akan Menyesal Jika Konflik Terus Dipicu
-
NASIONAL20/07/2026 10:00 WIBBawaslu Tantang Mahasiswa Adu Argumen Soal Hukum Pemilu
-
NASIONAL20/07/2026 09:00 WIBHina Wartawan, Iwakum Tuntut Hotman Minta Maaf Terbuka

















