EKBIS
Rupiah Ambruk ke Rp18.115 per Dolar AS
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat pada awal perdagangan Senin (8/6/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan bahkan sempat menyentuh level yang disebut sebagai titik terburuk sepanjang sejarah perdagangan rupiah.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka di level Rp18.107 per dolar AS atau melemah sekitar 0,39 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.036 per dolar AS. Tak lama setelah perdagangan dimulai, rupiah kembali tergelincir hingga menyentuh level Rp18.117 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren tekanan terhadap mata uang domestik yang dalam beberapa pekan terakhir terus dibayangi kombinasi sentimen global dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Kondisi pasar pagi ini menunjukkan dominasi dolar AS yang semakin kuat. Indeks dolar AS (DXY) bertahan di atas level psikologis 100 setelah menguat signifikan dalam beberapa hari terakhir. Situasi tersebut membuat banyak mata uang negara berkembang mengalami tekanan, termasuk rupiah.
Bukan hanya Indonesia yang tertekan. Dari 10 mata uang Asia yang dipantau, mayoritas bergerak melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, sementara peso Filipina, dolar Taiwan, baht Thailand, yen Jepang, dan dolar Hong Kong juga ikut tergerus.
Penguatan dolar AS didorong oleh data ekonomi Amerika yang lebih kuat dari perkiraan. Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan penciptaan lapangan kerja jauh di atas ekspektasi pasar. Kondisi tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa ekonomi AS masih solid dan membuka peluang kebijakan moneter yang lebih ketat dalam beberapa bulan mendatang.
Pelaku pasar kini mulai meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali mengambil langkah pengetatan jika tekanan inflasi meningkat.
Di saat yang sama, memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor tambahan yang memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman. Ketidakpastian global membuat investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen berbasis dolar dan meninggalkan aset-aset berisiko di negara berkembang.
Tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan pelemahan pasar keuangan domestik. Investor terlihat lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka sambil menunggu perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan The Fed dalam beberapa pekan ke depan.
Meski pelemahan rupiah kali ini terjadi di tengah tekanan regional yang cukup luas, level Rp18.100 per dolar AS tetap menjadi perhatian serius pelaku pasar. Angka tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa tekanan eksternal masih sangat kuat terhadap perekonomian negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dengan dolar AS yang masih menunjukkan dominasi dan ketidakpastian global yang belum mereda, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan tetap akan menghadapi tekanan tinggi. Investor kini menunggu langkah-langkah stabilisasi yang dapat meredam gejolak di pasar keuangan domestik. (Firman/Mun)
-
RAGAM07/06/2026 14:00 WIBKisah Cinta Bung Karno dan Gadis Belanda yang Berakhir Jadi Pelajaran Hidup
-
NASIONAL07/06/2026 17:19 WIBMahfud Bongkar Persoalan Program MBG dari Awal Mulai
-
RAGAM07/06/2026 12:30 WIBPHK Besar-besaran Guncang Dunia Teknologi
-
RAGAM07/06/2026 13:30 WIBBMKG Sebut Bediding Bukan Ancaman Cuaca Ekstrem
-
NASIONAL07/06/2026 13:00 WIBMensesneg: Jabatan Nonoperasional Polri Bisa Saja Diisi Sipil
-
POLITIK08/06/2026 09:00 WIBPengamat: Saatnya Prabowo Bersihkan Kabinet dari yang Tak Efektif
-
RIAU07/06/2026 16:40 WIBAntusiasme Tinggi, Peserta Riau Bhayangkara Run 2026 Tembus 15 Ribu Orang
-
NUSANTARA07/06/2026 20:00 WIBKhofifah Salurkan Bansos dan Program Desa Rp32,16 Miliar di Ngawi

















