Connect with us

EKBIS

Rupiah Jadi Jawara Asia

Aktualitas.id -

Ilustrasi, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan performa positif pada pembukaan perdagangan Selasa (21/7/2026). Di tengah pergerakan mata uang Asia yang beragam, rupiah tampil sebagai salah satu yang menguat paling besar terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.05 WIB rupiah dibuka menguat 11 poin atau 0,06% ke posisi Rp17.937 per dolar AS. Beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 09.09 WIB, penguatan berlanjut hingga ke level Rp17.933 per dolar AS, atau naik sekitar 0,08% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan tersebut menempatkan rupiah di jajaran mata uang Asia yang menguat pada awal perdagangan. Bahkan, penguatan rupiah menjadi yang terbesar di antara mata uang regional yang mencatat kenaikan pagi ini.

BACA JUGA  BI Catat Dalam Sepekan Dana Asing Rp5,9 Triliun Kabur dari Indonesia

Di belakang rupiah, ringgit Malaysia menguat sekitar 0,07%, yuan China naik 0,06%, sementara dolar Singapura menguat sekitar 0,02% terhadap dolar AS.

Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia lainnya justru bergerak di zona merah. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, disusul dolar Taiwan, baht Thailand, peso Filipina, yen Jepang, dan dolar Hong Kong yang sama-sama mengalami penurunan terhadap dolar AS.

Di pasar global, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia berada di kisaran 100,96, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi sehari sebelumnya. Meski demikian, dolar AS tercatat melemah terhadap beberapa mata uang utama seperti dolar Australia, pound sterling, euro, dan dolar Singapura.

BACA JUGA  Rupiah Melemah ke Rp16.312: Pasar Gelisah di Tengah Ancaman Perang Dagang dan Ketegangan Global

Penguatan rupiah pada awal perdagangan menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan domestik. Namun, pelaku pasar tetap mencermati berbagai faktor eksternal, termasuk arah kebijakan moneter global, pergerakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta perkembangan ekonomi internasional yang masih dapat memengaruhi volatilitas nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan. (Firman/Mun)

TRENDING