Connect with us

OASE

Hajar Aswad: Batu Surga yang Jadi Hitam Legam

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Hajar Aswad yang tertancap di sudut tenggara Kakbah menyimpan kisah keagungan sekaligus peringatan mendalam bagi umat manusia. Batu yang disunnahkan untuk dicium saat ibadah haji dan umrah ini ternyata menyimpan rekam jejak sejarah dari surga hingga menjadi saksi bisu di hari kiamat kelak.

Kisah penetapan batu ini bermula ketika Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mendirikan fondasi Kakbah, sebagaimana tersurat dalam Surah Al-Baqarah ayat 127. Saat pembangunan hampir rampung, Nabi Ibrahim AS mendapati satu celah kosong pada tiang fondasi dan meminta putranya mencari batu penutup.

Dalam perjalanannya, Nabi Ismail AS bertemu Malaikat Jibril yang menyerahkan sebuah batu hitam nan indah. Berdasarkan kisah kenabian, batu tersebut awalnya dibawa Nabi Adam AS dari surga saat diturunkan ke daratan India.

BACA JUGA  Kandungan Surat Al-Mumtahanah: Kisah Nabi Ibrahim Jadi Teladan bagi Orang Beriman

Namun betapa terkejutnya Nabi Ismail AS ketika kembali, batu tersebut sudah bertengger di pojok Kakbah. Nabi Ibrahim AS pun bersabda, batu itu diantarkan oleh malaikat yang bergerak jauh lebih gesit.

Meski nama “Hajar Aswad” tidak tercantum secara tekstual di dalam Al-Qur’an, keutamaannya dirincikan secara gamblang melalui hadis Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW menegaskan bahwa batu tersebut awalnya memiliki warna yang sangat suci dan terang.

“Hajar Aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih, lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam,” tegas Rasulullah SAW dalam riwayat Ibnu ‘Abbas (HR. Tirmidzi). Dalam riwayat lain, warnanya bahkan digambarkan lebih putih dari salju sebelum ternoda oleh dosa musyrik dan kejahatan manusia.

BACA JUGA  Studi Thomsen dan Temuan Wabar Menghidupkan Misteri Hajar Aswad

Lantas, mengapa kebaikan dan tauhid jutaan umat manusia tidak mengembalikan warna batu tersebut menjadi putih kembali?

Ulama ternama Ibnu Hajar Al-Asqalani menukil penjelasan Ibnu Qutaibah bahwa hal ini merupakan sunnatullah yang ditetapkan Allah SWT. Karakteristik warna hitam memang mewarnai (menyerap), bukan terwarnai, berkebalikan dengan sifat warna putih.

Sementara itu, Al-Muhibb At-Thabari menjelaskan bahwa perubahan warna ini merupakan iktibar atau pelajaran berharga bagi batin manusia. Jika perbuatan dosa saja mampu merusak dan menghitamkan batuan keras dari surga, maka dampaknya terhadap hati manusia tentu jauh lebih dahsyat dan membahayakan.

Tak sekadar menjadi penanda putaran thawaf, Hajar Aswad diyakini akan dihidupkan pada hari pembalasan kelak. Rasulullah SAW bersabda:

BACA JUGA  Jejak Ibrahim AS: Mengapa Lebaran Haji Identik dengan Pengorbanan?

“Demi Allah, Allah akan mengutus batu tersebut pada hari kiamat dan ia memiliki dua mata yang bisa melihat, memiliki lisan yang bisa berbicara, dan akan menjadi saksi bagi siapa yang benar-benar menyentuhnya,” (HR. Tirmidzi).

Oleh karena itu, sahabat Umar bin Khattab RA menegaskan bahwa tindakan mencium Hajar Aswad murni dilakukan sebagai bentuk ittiba’ atau meneladani sunnah Rasulullah SAW, bukan karena meyakini batu tersebut memiliki kekuatan gaib atau zat yang bisa mendatangkan manfaat maupun mudarat secara mandiri. (Mun)

TRENDING