Berita
Ribuan Rakyat Thailand Demontrasi Tuntut PM Prayut Mundur
Warga Thailand akan turun ke jalan, Sabtu (19/9) sore, untuk menyerukan Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha turun dari kekuasaan dan menuntut reformasi monarki. Jumlah peserta aksi hari ini disebut mencapai puluhan ribu orang. Demonstrasi kali ini diorganisir oleh mahasiswa Universitas Thammasat Bangkok, sebuah kelompok yang paling vokal tentang peran keluarga kerajaan, setelah sebelumnya sebagian besar aksi […]
Warga Thailand akan turun ke jalan, Sabtu (19/9) sore, untuk menyerukan Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha turun dari kekuasaan dan menuntut reformasi monarki. Jumlah peserta aksi hari ini disebut mencapai puluhan ribu orang.
Demonstrasi kali ini diorganisir oleh mahasiswa Universitas Thammasat Bangkok, sebuah kelompok yang paling vokal tentang peran keluarga kerajaan, setelah sebelumnya sebagian besar aksi tanpa pemimpin.
“Kami berjuang untuk lebih banyak demokrasi. Rencananya bukan untuk menghancurkan monarki, tetapi untuk memodernisasi, menyesuaikannya dengan masyarakat kita,” kata Panusaya Sithijirawattanakul, aktivis mahasiswa terkemuka pada Jumat (18/9) malam, mengutip AFP.
Aksi massa dilaporkan akan dimulai di Universitas Thammasat, sebelum pindah ke lapangan Sanam Luang yang bersejarah di depan istana kerajaan, tempat para pengunjuk rasa berencana untuk bermalam.
Pada Minggu, para demonstran diperkirakan akan merapat ke gedung pemerintah terdekat, sebuah langkah yang telah diperingatkan oleh pihak berwenang.
Unjuk kekuatan massa ini diperkirakan akan menjadi yang terbesar sejak kudeta 2014, di mana aktivis mahasiswa mengharapkan kehadiran lebih dari 50 ribu pendukung.
Polisi mengatakan sekitar 10 ribu aparat akan dikerahkan di sekitar daerah aksi.
Pada Jumat malam, tagar “19 Sept, kami mengambil kembali kekuatan rakyat” menjadi topik utama di Trending Topci Twitter di Thailand.
Warga Thailand yang berada di berbagai penjuru dunia diharapkan juga berkumpul sebagai bentuk solidaritas. Demonstrasi akhir pekan ini juga direncanakan di banyak negara, termasuk Jerman, Australia, dan Amerika Serikat.
Sejak pertengahan Juli lalu, hampir setiap hari Thailand telah mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh para pemuda untuk menuntut pengunduran diri Prayut, mantan panglima militer di balik kudeta 2014, dan perombakan total pemerintahannya.
Beberapa juga menuntut reformasi monarki kerajaan yang sangat kaya dan kuat – topik yang dulunya tabu di Thailand karena undang-undang pencemaran nama baik kerajaan.
Undang-undang pencemaran nama baik di Kerajaan Thailand dinilai melindungi pemerintahan monarki Raja Vajiralongkron Rama X supaya bebas dari kritik.
-
PAPUA TENGAH13/02/2026 15:20 WIBPenyerangan dan Pembakaran Fasilitas di Deiyai, Aparat Perketat Pengamanan
-
POLITIK13/02/2026 18:00 WIBGolkar Ungkap Bahlil Tak Berencana Jadi Cawapres 2029
-
NUSANTARA13/02/2026 15:30 WIBWapres Cek Pemberian Subsidi Bahan Pokok di Pasar Badung
-
PAPUA TENGAH13/02/2026 14:44 WIBBanyak Warga Mimika Keluhkan Kepesertaan PBI-JK Nonaktif, Ini Penjelasan BPJS
-
RAGAM13/02/2026 10:30 WIBNa Willa Ajak Masyarakat Kenang Masa Anak-anak
-
NASIONAL13/02/2026 16:00 WIBPrabowo: Kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis Hanya 0,0006%
-
OLAHRAGA13/02/2026 07:30 WIBJelang Debut F4, Qarrar Firhand Berhasil Menjuarai Heat 1 WSK Viterbo
-
PAPUA TENGAH13/02/2026 08:00 WIBDua Pucuk Senpi Organik Hilang Saat Insiden di Mile 50

















