RAGAM
Penyakit Campak Menular Lewat Udara dan Droplet
AKTUALITAS.ID – Virus campak masuk melalui saluran pernapasan, kemudian menyebar ke dalam tubuh sebelum menimbulkan gejala pada kulit.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menyatakan penyakit campak tergolong sangat mudah menular karena dapat menyebar melalui percikan saluran napas hingga partikel di udara.
“Penularannya bisa melalui percikan liur, tapi juga bisa airborne. Artinya virus dapat bertahan di udara dan terhirup oleh orang lain,” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Dr. dr. Adityo Susilo, Sp.PD, K-PTI, FINASIM dalam PAPDI Forum dan Konferensi Pers dengan tema “Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi” di Jakarta pada Selasa (31/3/2026).
Dokter yang terhimpun dalam PAPDI tersebut menjelaskan penularan campak terjadi secara langsung melalui droplet saat penderita batuk atau bersin, serta melalui airborne atau partikel yang dapat bertahan di udara.
Ia menambahkan, penularan juga dapat terjadi melalui kontak tidak langsung, misalnya saat seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung atau mulut.
Pada fase awal atau fase prodromal, gejala yang muncul seringkali tidak spesifik, seperti demam, batuk, pilek, dan mata merah.
Gejala tersebut dikenal sebagai “tiga C”, yakni cough (batuk), coryza (pilek), dan conjunctivitis (mata merah), yang menjadi ciri awal infeksi campak.
Namun, gejala ini kerap membuat campak sulit dikenali karena menyerupai infeksi saluran pernapasan lain.
“Kalau masih demam, batuk, pilek, itu bisa macam-macam. Kita baru curiga campak ketika muncul ruam yang khas,” ujarnya.
Ia menyebutkan, ruam campak berupa bercak kemerahan menonjol atau makulopapular biasanya muncul beberapa hari setelah gejala awal.
Kondisi ini menyebabkan adanya periode yang dalam istilah medis dikenal sebagai fase inkubasi atau fase penularan awal, ketika pasien sudah terinfeksi dan menularkan virus, tetapi belum teridentifikasi sebagai campak.
“Di situ ada window di mana pasien sudah sakit dan bisa menularkan, tapi belum terdeteksi sebagai campak,” kata Adityo.
PAPDI menilai pemahaman mengenai pola penularan dan gejala awal, penting untuk meningkatkan deteksi dini serta mencegah penyebaran yang lebih luas di masyarakat.
(Purnomo/goeh)
-
NASIONAL29/06/2026 22:00 WIBIndonesia dan Singapura Sepakati Kerja Sama Perlindungan Lingkungan Hidup
-
NASIONAL30/06/2026 07:00 WIBTB Hasanuddin: Latihan Militer Kopdes Telan Rp30 Juta/Orang
-
JABODETABEK29/06/2026 21:46 WIBBangun Paulus Desak Polisi Buka Kembali Kasus Dugaan Pencurian dan Pertanyakan SP2 Lidik Polres Jakpus
-
NUSANTARA30/06/2026 13:30 WIBJangan Nekat! Jalur Pendakian Merapi Masih Ditutup Total
-
NASIONAL29/06/2026 23:00 WIBGarnita NasDem Desak Negara Maksimalkan Perlindungan Korban Kasus YTR
-
JABODETABEK30/06/2026 06:30 WIBLayanan SIM Keliling Dibuka di 5 Wilayah Jakarta
-
OASE30/06/2026 05:00 WIBTernyata Bulan Dibahas Puluhan Kali dalam Al-Qur’an
-
JABODETABEK30/06/2026 05:30 WIBBMKG Ingatkan Cuaca Jakarta Dinamis

















