Berita
Imbas Isu Kerja Paksa Uighur, Inggris Bakal Larang Impor China
AKTUALITAS.ID – Inggris berencana melarang impor produk asal China yang diduga menggunakan tenaga kerja paksa etnis Uighur di Provinsi Xinjiang. Pemerintah Inggris mengkhawatirkan industri tekstil lokal tak memeriksa dengan cermat apakah barang dari Xinjiang, yang memasok hampir seperempat kapas dunia, dibuat tanpa menggunakan kerja paksa. Menteri Luar Negeri Dominic Raab diperkirakan mengungkap rencana tersebut kepada […]
AKTUALITAS.ID – Inggris berencana melarang impor produk asal China yang diduga menggunakan tenaga kerja paksa etnis Uighur di Provinsi Xinjiang.
Pemerintah Inggris mengkhawatirkan industri tekstil lokal tak memeriksa dengan cermat apakah barang dari Xinjiang, yang memasok hampir seperempat kapas dunia, dibuat tanpa menggunakan kerja paksa.
Menteri Luar Negeri Dominic Raab diperkirakan mengungkap rencana tersebut kepada parlemen pekan depan, termasuk untuk memperketat aturan bagi eksportir sebagai salah satu langkah represif kepada negeri tirai bambu.
Rencana pengetatan aturan tersebut akan mencakup denda jika perusahaan eksportir gagal menunjukkan uji tuntas dalam memeriksa rantai pasokan mereka.
Meski demikian, rencana Raab diperkirakan berhenti pada sanksi kepada pejabat China terkait dengan kamp konsentrasi dan program sterilisasi paksa Uighur.
“Pendekatan kami terhadap China berakar dari nilai dan kepentingan kami,” kata seorang pejabat di Kantor Luar Negeri seperti dikutip AFP, Senin (11/1).
Hubungan Inggris dan China dalam dua tahun terakhir memang semakin dingin. Terutama setelah kritik London kepada China terkait tindakan represif aparat terhadap juru kampanye demokrasi di Hong Kong.
Lihat juga: Salip Jack Ma, Pengusaha Air Minum Jadi Orang Terkaya China
Inggris juga mengkritik perlakuan terhadap muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, dan menyebut mereka telah dipekerjakan paksa untuk memproduksi kapas.
Liu Xiaoming, Duta Besar China yang akan mengakhiri penugasannya di London, pekan lalu mengatakan hubungan antara kedua negara bergantung pada apakah Inggris melihat China sebagai mitra atau saingan. “Bola ada di pihak Inggris,” ucapnya.
China juga menyangkal kerja paksa digunakan dalam industri kapasnya dan mengatakan bahwa kamp-kamp yang ada di Xinjiang adalah “sekolah pelatihan kejuruan” sedangkan pabrik adalah bagian dari skema pengentasan kemiskinan.
Sementara itu, peritel asal Inggris Marks and Spencer pekan lalu berkomitmen untuk tidak menggunakan kapas dari Xinjiang karena kekhawatiran yang tumbuh di industri mode tentang rantai pasokan mereka.
Dua tahun lalu, perusahaan AS Badger Sportswear juga mengumumkan akan menghentikan pengadaan pakaian dari perusahaan pakaian China Hetian Taida, karena khawatir menggunakan kerja paksa dari kamp-kamp interniran di Xinjiang.
-
RIAU12/04/2026 14:45 WIBRicuh di Panipahan, Kapolda Riau Copot Kapolsek dan Kanit Reskrim
-
NASIONAL11/04/2026 23:00 WIBKPK Amankan Politisi PDIP yang Juga Adik Bupati Tulungagung
-
DUNIA12/04/2026 12:00 WIBIsrael Disebut Akan Ganggu Gencatan Senjata Iran dan AS
-
NASIONAL12/04/2026 09:00 WIBJadi Tersangka, Riza Chalid Didesak Pulang ke Indonesia
-
RAGAM12/04/2026 00:01 WIBSoroti Temuan BNN, BPKN Dukung Larangan Vape
-
POLITIK12/04/2026 11:00 WIBBawaslu Siapkan Pengawas Hadapi Pelanggaran Berbasis Digital
-
JABODETABEK12/04/2026 05:30 WIBBMKG: Hujan dan Petir Ancam Jabodetabek Hari Ini
-
POLITIK12/04/2026 07:00 WIBDasco Sebut Bupati Tulungagung Belum Resmi Jadi Kader Gerindra

















