Berita
Hariman Siregar: Demokrasi Harus Dijaga Agar Tak Terjebak Dalam Otoritarianisme
AKTUALITAS.ID – Tokoh peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) yang terjadi pada 1974, Dr Hariman Siregar, mengatakan apa ototiaran yang terjadi di masa lalu, pada masa pandemi Covid-19 ini tidak boleh terjadi. Masyarakat sipil harus terus menjaganya karena untuk mencapainya dahulu membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit dan sangat susah. ”Situasi hari ini memang terkesan ‘auto pilot’. […]
AKTUALITAS.ID – Tokoh peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) yang terjadi pada 1974, Dr Hariman Siregar, mengatakan apa ototiaran yang terjadi di masa lalu, pada masa pandemi Covid-19 ini tidak boleh terjadi. Masyarakat sipil harus terus menjaganya karena untuk mencapainya dahulu membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit dan sangat susah.
”Situasi hari ini memang terkesan ‘auto pilot’. Atas keadaan ini maka semua kekuatan sipil harus terus bahu menjaganya agar demokrasi terus terjaga. Ini agar bangsa ini tidak terjebak dalam otoritarianisme kembali,” kata Hariman Siregar, dalam acara peringatan HUT Indmei ke-21 dan Peringatan Malari ke-47 di Jakarta (15/1/2021).
Memang, lanjutnya, dalam situasi pandemi masyarakat harus bergantung pada diri sendiri. Aturan kenegaraan pun bisa diperketat.
”Tapi semua itu tidak boleh mengorbankan kebebasan sipil kita. Jalan keluarnya ya semua pihak harus saling membantu dan bergotong royong. Masyarakat harus disadarkan bahwa vaksin bukan segala. Mereka harus diajak dengan semakin menyadari perlunya mentaati protokol kesehatan,” tegasnya.
Senada dengan Hariman, Guru Besar Mikrobiologi UI Prof Amin Soebandrio, mengataan kesadaran masyarakat memang harus dibangun di tengah pandemi ini. Vaksin tidak bisa dijadikan sandaran utama untuk memutus pandemi virus COvid-19.
”Ingat semua vaksin itu punya kekurangan dan kelebihan. Tidak ada vaksin yang superior. Sayangnya, semua negara kini berebut vaksin. Dan sampai sekarang dunia kesehatan belum tahu persis bagaimana persisnya kekuatan vaksin itu. Kita baru bisa tahu soal ini enam bulan ke depan,” katanya.
Dunia sendiri, katanya, kapasitas produksi vaksin di dunia 1 tahun itu enam milyar vaksin. Sedangkan penduduk dunia kini jumlahnya sudah mencapai lebih dari tujuh miliar. Untuk Indonesia setidaknya harus ada 170 juta penduduk untuk divaksin. Jumlah vaksin yang harus disediakan mencapai 400 juta vaksin karena minimal harus dilakukan dua kali penyuntikan per orang.
Epidemolog UI, DR Pandu Riono, mengatakan situasi pandemi saat ini makin tak terkendali. Data yang ada sekarang sebenarnya hanya seperti puncak gunung es.
”Jumlah orang yang terkena pandemi terus meningkat. Bahkan kurvanya terus meninggi dan ini menandakan Indonesia belum menyelesaikan pandemi gelombang pertama. Angka reproduksinya juga masih tinggi. Belum pernah sampai di bawah angka satu, yang artinya belum pernah terkendali,” ujarnya.
Mau tidak mau, lanjut Pandu, masyarakat memang harus dijadikan sebagai garda yang paling depan. Adanya hal ini memang masyarakat harus diajak bersama untuk memutus pandemi dengan mematuhi semua protokol kesehatan.
-
NUSANTARA15/04/2026 08:30 WIBWakapolda Riau Lepas Satgas Jembatan Merah Putih Tahap II
-
NUSANTARA15/04/2026 07:30 WIBKomplotan Curanmor Nawaripi Akhirnya Tertangkap
-
NUSANTARA15/04/2026 13:30 WIBKreatif Banget! Persit Mimika Ubah Batu Biasa Jadi Aksesori Premium
-
OTOTEK15/04/2026 16:30 WIBTiongkok Mulai Menyalip, Ini Dia Daftar Mobil Terlaris Sepanjang Q1 2026
-
POLITIK15/04/2026 10:00 WIBKasus Panas! Kritik ke Presiden Diseret ke Ranah Hukum
-
NUSANTARA16/04/2026 00:01 WIBTiga Warga Distrik Sinak Terluka Akibat Penembakan OPM
-
EKBIS15/04/2026 10:30 WIBPagi Hijau! Rupiah Menguat Lawan Dolar AS
-
NASIONAL15/04/2026 09:00 WIBHabiburokhman: Polri Harus Konsisten Tindak Anggota Bermasalah

















