DUNIA
1.270 Orang Tewas! Terkuak Alasan Gletser Nepal Runtuh Kencang bak Kilat
AKTUALITAS.ID – Bencana banjir bandang akibat runtuhnya gletser di wilayah perbatasan Himalaya, Nepal Tibet, mencatatkan tragedi kemanusiaan mengerikan. Data terbaru mencatat lebih dari 1.270 orang tewas dan setidaknya 4.700 warga lainnya masih dinyatakan hilang.
Sepekan pasca-petaka, efektivitas sistem peringatan dini bencana di Nepal menuai sorotan tajam. Pasalnya, massa gletser raksasa dari Puncak Langtang Lirung setinggi 7.234 meter itu meluncur dengan kecepatan fantastis mencapai 193 kilometer per jam usai runtuh pada Rabu (26/8/2026).
Laju air dan material vulkanik yang melintasi Lembah Sungai Trisuli tersebut dinilai terlalu cepat untuk diantisipasi oleh sistem peringatan konvensional.
“Bagi masyarakat yang dekat dengan sumbernya, peringatan banjir datang terlambat,” tegas Prashidha Khatiwada, insinyur struktur dan seismik dari Swinburne University of Technology, Melbourne.
Kronologi Keterlambatan Peringatan
Laporan dari konsorsium ahli pegunungan tinggi Asia (HiRISK) merinci detik-detik petaka dan respons otoritas setempat yang kedodoran:
Pukul 08.37 waktu setempat: Gletser Langtang Lirung mendadak runtuh total.
23 Menit Setelah Kejadian: Kepala Distrik Rasuwa baru mengontak Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal.
38 Menit Setelah Kejadian: Peringatan evakuasi baru resmi disebarkan ke wilayah Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Chitwan.
Saat sirine dan imbauan pindah ke dataran tinggi diumumkan, gelombang banjir bah berkecepatan tinggi sudah lebih dulu menyapu kawasan hilir pemukiman.
Tanda-Tanda Alam yang Terlewatkan
Pakar geofisika Virginia Tech, Manoochehr Shirzaei, mengungkapkan bahwa citra satelit sebenarnya merekam adanya percepatan pergerakan es dan batuan beberapa hari sebelum bencana. Fenomena ini diduga dipicu oleh pemanasan iklim global dan lonjakan air lelehan di dasar gletser.
Selain itu, dua hari sebelum tragedi maut – tepatnya Senin (24/8/2026) – warna air lelehan gletser diketahui mendadak berubah menjadi cokelat keruh.
Runtuhnya massa es raksasa ini bahkan memicu getaran seismik hingga magnitudo 4. Para peneliti kini mendesak agar pemantauan gelombang seismik dan citra satelit real-time segera diintegrasikan ke dalam sistem peringatan dini masa depan guna mencegah terulangnya tragedi serupa. (Mun)
-
EKBIS20/10/2026 17:00 WIBEkonom Ingatkan Bahaya Reputasi Indonesia di Mata Investor Global
-
DUNIA20/10/2026 21:00 WIBIran Perketat Ancaman di Selat Hormuz
-
POLITIK20/10/2026 20:00 WIBGolkar Klaim Indonesia Tumbuh Cepat di Era Prabowo-Gibran
-
NASIONAL20/10/2026 17:15 WIBDua Tahun Prabowo-Gibran, Survei ASI Ungkap CKG dan Sekolah Rakyat Jadi Program Favorit
-
EKBIS20/10/2026 19:00 WIBIHSG Ditutup Menguat 5,65 Persen ke Level 5.278
-
NUSANTARA20/10/2026 22:00 WIBAksi Kasar Ajudan Gubernur Kaltim Senggol Demonstran Wanita
-
DUNIA20/10/2026 18:00 WIBSerangan Drone Israel Tewaskan Warga Sipil di Gaza
-
NUSANTARA20/10/2026 23:00 WIBGunung Sumbing Terbakar, Semua Jalur Pendakian Langsung Digembok