Connect with us

DUNIA

Pentagon Panggil Elon Musk untuk Proyek Meridian

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) resmi menggandeng miliarder teknologi Elon Musk untuk terlibat dalam sebuah studi strategis Pentagon yang bertujuan memetakan wajah peperangan masa depan.

Program bernama Project Meridian itu dibentuk untuk mengidentifikasi teknologi, kemampuan militer, hingga sistem persenjataan yang dibutuhkan Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman global pada tahun-tahun mendatang.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan bahwa Elon Musk akan bergabung bersama pendiri perusahaan teknologi pertahanan Anduril Industries, Palmer Luckey, serta mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich sebagai pengarah utama proyek tersebut.

Project Meridian dijadwalkan berlangsung selama 120 hari. Dalam periode itu, tim akan melakukan analisis mendalam mengenai perubahan pola peperangan global serta kemampuan apa saja yang harus dikuasai militer AS untuk mempertahankan keunggulan strategisnya.

“Project Meridian, yang berfokus pada masa depan peperangan, bukan bertujuan menyusun strategi atau kebijakan baru,” kata Hegseth saat berpidato di Marine Corps Base Quantico, Virginia.

Meski demikian, proyek tersebut dipandang sebagai langkah penting Pentagon dalam menentukan bidang teknologi mana yang harus diprioritaskan untuk dikembangkan secara agresif.

Menurut Hegseth, fokus kajian mencakup kemampuan menemukan, mengembangkan, dan memproduksi sistem persenjataan generasi baru yang dibutuhkan pasukan Amerika di berbagai medan operasi, mulai dari bawah tanah, darat, laut, udara hingga luar angkasa.

Kepala Teknologi Pentagon Emil Michael akan memimpin pelaksanaan proyek tersebut bersama Musk, Luckey, dan Gingrich. Mereka akan didukung tim lintas sektor yang berasal dari unsur pemerintahan, industri pertahanan, akademisi, serta komunitas kebijakan publik.

Penunjukan Elon Musk langsung menyedot perhatian. Pasalnya, pria yang memimpin SpaceX dan Tesla itu kini berada dalam posisi strategis untuk membantu menentukan kebutuhan teknologi militer masa depan, sementara perusahaannya sendiri merupakan salah satu kontraktor utama Pentagon.

SpaceX sebelumnya telah mengantongi sejumlah kontrak bernilai fantastis dari militer AS. Pada Mei lalu, perusahaan tersebut memperoleh kontrak senilai US$4,16 miliar untuk pembangunan satelit pelacak dan penarget ancaman udara bagi Angkatan Luar Angkasa AS.

Tak lama setelah itu, SpaceX kembali memenangkan kontrak jaringan komunikasi satelit militer senilai US$2,29 miliar, memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam sektor pertahanan antariksa Amerika.

Di sisi lain, perusahaan Palmer Luckey, Anduril Industries, juga menjadi salah satu bintang baru industri militer modern. Perusahaan tersebut fokus mengembangkan teknologi senjata otonom, sistem pertahanan berbasis kecerdasan buatan, serta perangkat militer generasi berikutnya.

Pada 2025, Korps Marinir AS memberikan kontrak dengan nilai hingga US$642 juta kepada Anduril untuk penyediaan sistem anti-drone yang mampu menghadapi ancaman pesawat tanpa awak di medan tempur.

Pengumuman Project Meridian juga menjadi bagian dari agenda besar Pentagon dalam mempercepat adopsi sistem peperangan otonom. Rencana tersebut mencakup pembentukan Komando Peperangan Otonom berbintang empat yang bertugas mengintegrasikan teknologi robotik dan kecerdasan buatan ke seluruh cabang militer.

Langkah ini menandai babak baru perlombaan teknologi pertahanan global. Di tengah meningkatnya pemanfaatan kecerdasan buatan, drone tempur, hingga sistem senjata tanpa awak, Amerika Serikat tampaknya ingin memastikan mereka tetap menjadi pemimpin dalam medan perang masa depan.

Hingga kini, pihak SpaceX, Tesla, Anduril Industries maupun Newt Gingrich belum memberikan tanggapan resmi terkait keterlibatan mereka dalam Project Meridian. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version