EKBIS
Kurs Rupiah Menguat 0,19 Persen ke Rp16.736 Saat Bursa Asia Bergerak Beragam
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 09.41 WIB, rupiah berada di level Rp16.736 per dolar AS, menguat 32 poin atau setara 0,19 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp16.768 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi pada pagi ini. Hingga pukul 09.00 WIB, ringgit Malaysia mencatatkan penguatan terbesar di kawasan Asia setelah melonjak 0,76 persen terhadap dolar AS.
Selain ringgit, dolar Taiwan juga menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan 0,49 persen, disusul won Korea Selatan yang menguat 0,36 persen. Peso Filipina turut terapresiasi 0,35 persen terhadap greenback.
Sementara itu, yuan China tercatat menguat tipis 0,08 persen pada perdagangan pagi hari.
Di sisi lain, yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah terdepresiasi 0,52 persen. Pelemahan juga terjadi pada baht Thailand yang terkoreksi 0,06 persen, serta dolar Singapura yang turun 0,03 persen. Adapun dolar Hong Kong melemah tipis 0,006 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan rupiah dan mata uang Asia pada hari ini mencerminkan dinamika pasar global yang masih dipengaruhi sentimen eksternal, termasuk arah kebijakan moneter bank sentral utama serta pergerakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. (Firmansyah/Mun)
-
DUNIA01/09/2026 11:00 WIBKSAD Maruli: Tato Tradisi Tak Halangi Jadi Prajurit
-
EKBIS01/09/2026 09:30 WIBIHSG Awal September Dibuka Menguat
-
NUSANTARA01/09/2026 12:30 WIBBMKG: September 2026 Belum Aman dari Kemarau
-
NUSANTARA01/09/2026 14:30 WIBPria Inggris Tewas Misterius di Vila Bali
-
EKBIS01/09/2026 11:30 WIBPertamina Umumkan Harga Baru BBM Nonsubsidi
-
EKBIS01/09/2026 10:30 WIBRupiah Nyaris Tak Bergerak di Rp17.7 Ribu
-
DUNIA01/09/2026 12:00 WIBPuluhan Drone Iran Hancurkan Pangkalan Udara AS di UEA
-
NASIONAL01/09/2026 13:00 WIBGerindra Semprot Bakom Soal Hasil Survei Anjlok