Connect with us

EKBIS

IHSG Ambruk Pagi Ini

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Pasar saham Indonesia langsung dihantam gelombang tekanan besar pada awal perdagangan Senin (11/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hingga 1,4 persen hanya beberapa menit setelah bel pembukaan dibunyikan, memicu kepanikan investor dan membuat mayoritas saham terkapar di zona merah.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 09.07 WIB, IHSG terjun 97,41 poin ke posisi 6.871,99. Sebanyak 419 saham melemah, hanya 173 saham menguat, sementara 367 lainnya stagnan.

Tekanan jual terus membesar. Hingga pukul 09.34 WIB, IHSG masih terpuruk di level 6.916,465 atau turun 0,76 persen. Nilai transaksi pun sudah menembus Rp4,28 triliun dengan volume perdagangan mencapai 8,33 miliar saham.

Aksi jual brutal paling besar datang dari saham-saham perbankan raksasa. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi pemberat utama indeks dengan kontribusi penurunan mencapai 27,39 poin. Tekanan terhadap BMRI terjadi bersamaan dengan masuknya saham tersebut ke periode ex date.

Tak hanya BMRI, deretan saham kelas kakap lain ikut menyeret IHSG ke jurang merah. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), hingga PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kompak menjadi penekan terbesar pasar.

DSSA dan BREN bahkan masih berada dalam tekanan berat menjelang pengumuman indeks MSCI pada 12 Mei 2026. Pasar berspekulasi dua saham tersebut berpotensi didepak dari indeks global bergengsi itu, memicu aksi keluar besar-besaran dari investor.

Tak berhenti di situ, saham-saham seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), hingga PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) juga masuk daftar top laggards pagi ini.

IHSG sempat mencoba bangkit dan memangkas koreksi ke level minus 0,4 persen. Namun pantulan itu hanya bertahan sesaat sebelum tekanan jual kembali menghantam dan membuat indeks longsor lebih dalam.

Pada awal sesi, IHSG bergerak liar dengan level tertinggi di 6.968,92 dan terendah menyentuh 6.846,63. Sebanyak 455 saham tercatat melemah, menunjukkan tekanan pasar yang sangat dominan.

Di tengah badai merah, hanya sedikit saham yang mampu bertahan. PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi penopang terbesar indeks dengan kontribusi positif 22,42 poin. Saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Permata Tbk (BNLI), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) juga membantu menahan laju kejatuhan IHSG meski dampaknya terbatas.

Dari sisi sektoral, sektor energi menjadi yang paling terpukul setelah anjlok 2,36 persen. Sektor industri ikut merosot 1,53 persen, sedangkan sektor keuangan melemah 1,37 persen.

Sebaliknya, sektor kesehatan justru melesat tajam hingga 5,57 persen dan menjadi satu-satunya sektor yang mencuri perhatian di tengah kepanikan pasar. Sektor infrastruktur juga menguat 1,38 persen.

Tekanan di pasar saham terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.407 per dolar AS. Sementara itu, indeks unggulan LQ45 ikut terperosok 1,91 persen dan indeks syariah JII turun 2,25 persen.

Kondisi ini memperpanjang tren negatif setelah pada perdagangan sebelumnya IHSG juga ditutup anjlok 2,86 persen ke level 6.969,40, menandakan sentimen pasar domestik masih sangat rapuh di tengah tekanan global dan aksi jual investor besar. (Firman/Mun)

TRENDING