OASE
Kisah Nabi Yunus dan Ikan Besar dalam Surat Ash-Shaffat
AKTUALITAS.ID – Terkepung tiga lapis kegelapan yang mematikan: pekatnya malam, gelapnya dasar samudra, dan pengapnya perut ikan raksasa. Inilah momen paling menegangkan sekaligus penuh hikmah dalam sejarah para nabi, tatkala Nabi Yunus AS ditelan hidup-hidup oleh ikan paus.
Al-Qur’an secara khusus mengabadikan peristiwa epik ini dalam sejumlah surat—seperti QS. Ash-Shaffat, Al-Anbiya, Al-Qalam, dan Yunus. Kitab suci juga menyematkan julukan istimewa bagi sang nabi, yakni Ash-Sahibul Hūt atau Zun-Nūn (sosok yang ditelan ikan). Sementara itu, makhluk raksasa penelan Yunus direkam dengan istilah Al-Hūt (ikan besar) dan Nūn.
Kisah bermula saat Nabi Yunus membuat keputusan gegabah meninggalkan kaumnya di Ninawa dalam keadaan marah dan putus asa akibat dakwahnya terus didustakan. Pelarian ini membawanya ke sebuah kapal yang diadang badai ganas. Undian nasib memaksanya terjun ke lautan yang tengah mengamuk. Di sanalah, sang paus raksasa yang telah diutus Allah menanti, menerkam, dan membawanya tenggelam ke dasar samudra tergelap.
Ulama dan mufasir Sayyid Quthb menjelaskan, tekanan bertubi-tubi dari kaumnya telah membuat Yunus kehilangan kesabaran. Di dalam perut paus itulah ia baru menyadari kezalimannya sendiri karena lari dari kewajiban berdakwah. Meski berada di tengah tiga kegelapan ekstrem, pancaindra Yunus masih berfungsi utuh. Dalam kondisi tak berdaya, ia merapal doa tasbih abadi yang terekam dalam QS. Al-Anbiya ayat 87:
“La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dholimin” (Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim).
Sayyid Quthb menegaskan, andai saja Yunus tidak bertasbih dan mengakui kesalahannya, niscaya perut ikan itu akan menjadi kuburannya hingga hari kebangkitan. Berkat keikhlasan taubatnya, Allah mengabulkan doanya dan memerintahkan sang paus memuntahkan Yunus ke daratan tandus. Dalam kondisi sakit dan lemah, Allah menumbuhkan pohon dari jenis labu untuk melindunginya.
Pelajaran monumental dari kisah ini adalah tentang kesabaran tingkat tinggi yang wajib dimiliki seorang pendakwah atau pemimpin. Pascapertobatan di perut paus, Allah mengembalikan Yunus kepada kaumnya. Kepulangannya membuahkan hasil luar biasa: seratus ribu lebih penduduk Ninawa akhirnya beriman, beristighfar, dan selamat dari azab kehancuran. Kisah ini menjadi peringatan keras dalam QS. Al-Qalam ayat 48, agar umat Islam tidak lekas putus asa dan tidak meniru kesalahan Ash-Sahibul Hūt. (Mun)
-
NASIONAL16/10/2026 11:00 WIBPengamat SDI: Karhutla Membakar Masa Depan Anak
-
NUSANTARA16/10/2026 08:30 WIBBMKG Bunyikan Alarm ‘AWAS’ Kekeringan di 22 Provinsi
-
EKBIS16/10/2026 09:30 WIBIHSG AMBRUK 11%
-
DUNIA16/10/2026 15:00 WIBAsap Karhutla Mengerikan! Langit Indonesia Jadi Sorotan Dunia
-
JABODETABEK16/10/2026 17:30 WIBBMKG: Jakarta Mulai Terpapar Asap Karhutla Kalimantan
-
JABODETABEK16/10/2026 07:30 WIBTawuran Pelajar SMK Pelita dan SMK Pandu Tewaskan Satu Siswa
-
EKBIS16/10/2026 13:00 WIBPengamat Ekonomi: Pariwisata Bali Terancam Gara-Gara Antrean BBM
-
EKBIS16/10/2026 09:00 WIBEddy Soeparno: RI Bisa Jadi Raja Energi Bersih Dunia