Connect with us

RAGAM

Gunung Ciremai Simpan Jejak Bahaya Besar

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: akutalitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Tim peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN mengungkap bukti fisik aktivitas tektonik dan vulkanik zaman Kuarter di wilayah Lingkar Timur Kuningan, Jawa Barat. Temuan ini memperkuat adanya sejarah panjang deformasi tanah, sesar aktif, hingga jejak erupsi purba di kawasan kaki Gunung Ciremai.

Peneliti Ahli Muda PRKG BRIN sekaligus ketua tim penelitian, Sonny Aribowo, mengatakan riset ini dilakukan karena data pentarikhan umur endapan gunung api di Pulau Jawa masih terbatas, padahal sebagian besar wilayah Jawa tertutup material vulkanik.

Menurut Sonny, endapan gunung api yang terdampak patahan dapat menyimpan informasi penting tentang sejarah gempa bumi di masa lalu. Karena itu, tim melakukan analisis geokronologi dan pemetaan LiDAR presisi tinggi terhadap endapan distal Gunung Ciremai.

“Melalui metode carbon dating pada endapan di jalur Lingkar Timur Kuningan, ditemukan fakta geologi yang unik. Endapan berumur 22.000 tahun berada di atas endapan berumur 20.000 tahun,” ujar Sonny, Sabtu (9/5/2026).

Susunan lapisan tersebut, kata dia, menjadi bukti kuat adanya aktivitas sesar naik yang terjadi setelah periode 20.000 tahun lalu. Lapisan yang lebih tua terdorong ke atas lapisan yang lebih muda akibat tekanan tektonik.

Selain sesar naik, peneliti juga menemukan indikasi sesar normal pada endapan berumur sekitar 16.000 tahun. Temuan itu diduga berkaitan dengan fase penyeimbangan sedimen setelah tekanan tektonik besar, atau jejak gempa bumi besar pada masa tersebut.

Sonny menjelaskan, riset ini juga membedakan karakter material endapan jauh dan endapan dekat Gunung Ciremai. Hasil analisis unsur jejak dan diagram TAS menunjukkan endapan distal tergolong sedimen vulkanik basaltik sub-alkalin dengan kandungan besi tinggi dan silika rendah. Sementara itu, endapan proximal didominasi batuan andesit basaltik dengan seri magma medium-K.

Perbedaan komposisi geokimia itu membantu peneliti menelusuri asal-usul material serta arah aliran erupsi purba Gunung Ciremai. Di sisi lain, endapan distal yang berumur sekitar 15.000 tahun juga mengindikasikan pernah terjadi letusan pada periode tersebut.

Penggunaan data LiDAR di kawasan Lingkar Timur Kuningan memungkinkan tim melihat bentuk permukaan bumi tanpa terhalang vegetasi. Hasilnya menunjukkan kemiringan lapisan dan patahan yang cukup jelas pada morfologi lahan.

“Data radiokarbon dan LiDAR ini memberikan pembaruan penting terhadap kronologi erupsi Gunung Ciremai,” kata Sonny. Ia menambahkan, temuan tersebut menunjukkan fase deformasi tektonik di Kuningan berlangsung seiring dengan sejarah vulkanisme gunung tersebut.

Menurut Sonny, kawasan sekitar Gunung Ciremai memiliki kompleksitas geologi yang tinggi. Karena itu, integrasi data erupsi eksplosif dan sesar aktif dinilai penting untuk mendukung tata ruang yang lebih aman, memperkirakan periode ulang gempa darat, serta meningkatkan sistem peringatan dini berbasis risiko multi-bahaya.

Gunung Ciremai sendiri merupakan gunung berapi tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut. Gunung ini berada di wilayah Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Meski masih tergolong aktif, saat ini belum tercatat adanya aktivitas vulkanik signifikan. (Irawan/Mun)

TRENDING

Exit mobile version