Connect with us

NASIONAL

Polisi Selidiki Kasus Investasi BLN, Kuasa Hukum Korban Ungkap Skemanya

Aktualitas.id -

Ilustrasi Investasi bodong (IST)

AKTUALITAS.ID – Polisi masih mendalami dugaan investasi bodong yang melibatkan Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN). Penyidik Polda Jawa Tengah menyelidiki peran mantan Ketua koperasi tersebut, Nicholas Nyoto Prasetyo, dalam kasus yang diduga merugikan banyak anggota.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah Djoko Julianto mengatakan penyidik telah menetapkan satu tersangka berinisial Dalyati yang menjabat sebagai Kepala Cabang BLN Salatiga pada 4 Maret 2026.

Sehari setelah penetapan tersangka, polisi menggeledah kantor administrasi BLN di Salatiga serta rumah tersangka dan sejumlah pengurus untuk mencari dokumen terkait dugaan penghimpunan dana masyarakat tanpa izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

“Hambatan kami saat ini belum mendapatkan keterangan dari Kementerian Koperasi terkait kegiatan Koperasi BLN serta belum kooperatifnya ketua dan pengurus dalam memberikan keterangan dan dokumen,” kata Djoko dalam rapat dengar pendapat umum di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Sementara itu, kuasa hukum korban Aris Carmadi menjelaskan dugaan investasi bodong tersebut bermula dari program investasi bernama Sipintar yang ditawarkan kepada anggota sejak 2017.

Menurut Aris, koperasi tersebut menjanjikan keuntungan hingga 100 persen dalam dua tahun dengan imbal hasil sekitar 4,17 persen setiap bulan.

Setelah menerima keuntungan beberapa kali, banyak anggota kembali menanamkan dana yang lebih besar, bahkan ada yang menjaminkan aset pribadi untuk mengikuti program tersebut.

Namun sejak pertengahan Maret 2025 pembayaran keuntungan mulai tersendat hingga akhirnya berhenti. Para anggota kemudian menelusuri legalitas investasi tersebut dan menemukan kegiatan penghimpunan dana itu tidak memiliki izin dari OJK.

Kasus ini kemudian dilaporkan ke kepolisian pada 2025. Para korban memperkirakan kerugian mencapai triliunan rupiah dengan jumlah anggota yang terdampak tersebar di berbagai daerah di Indonesia. (Yan Kusuma)

TRENDING