Connect with us

EKBIS

Rupiah Ambruk di Akhir April

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Kamis (30/4/2026). Mata uang Garuda bahkan nyaris menyentuh level psikologis Rp17.400 per dolar AS di tengah ketidakpastian pasar global.

Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka melemah dan terus tertekan sepanjang awal sesi. Pada pukul 09.05 WIB, rupiah berada di level Rp17.358 per dolar AS atau melemah 32 poin (0,18%) dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.326 per dolar AS.

Tekanan berlanjut pada pukul 09.10 WIB, di mana rupiah tercatat di posisi Rp17.366 per dolar AS atau melemah 0,23%. Bahkan hingga pukul 09.20 WIB, depresiasi semakin dalam dengan rupiah menyentuh Rp17.370 per dolar AS atau turun sekitar 0,55%.

Pelemahan ini menunjukkan tekanan yang konsisten sejak awal perdagangan. Sebelumnya, rupiah juga sempat dibuka di kisaran Rp17.349 per dolar AS, turun 23 poin dari posisi penutupan hari sebelumnya.

Secara regional, rupiah tidak sendirian. Sejumlah mata uang Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS, seperti ringgit Malaysia yang turun 0,31% dan dolar Taiwan yang melemah 0,22%. Namun, sebagian besar mata uang Asia justru mampu menguat, seperti peso Filipina, baht Thailand, hingga yen Jepang.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) tercatat relatif stabil di kisaran 98,9, mencerminkan sikap pelaku pasar global yang cenderung berhati-hati.

Analis menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Sentimen “wait and see” terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat membuat investor cenderung menahan posisi. Selain itu, meningkatnya permintaan valuta asing oleh korporasi di akhir bulan turut menambah tekanan musiman terhadap rupiah.

Dengan posisi saat ini, rupiah semakin menjauh dari level penutupan sebelumnya dan bergerak mendekati batas psikologis Rp17.400 per dolar AS. Level ini kerap menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan tekanan yang lebih dalam terhadap stabilitas nilai tukar.

Pelaku pasar disarankan tetap mencermati perkembangan global serta dinamika permintaan valas domestik. Volatilitas rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek seiring tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. (Firman/Mun)

TRENDING