EKBIS
Rupiah Jebol Rp18.200 per Dolar AS
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus level psikologis Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6/2026) pagi. Pelemahan ini memperpanjang tren tekanan yang membayangi mata uang Garuda sepanjang tahun berjalan.
Berdasarkan data Google Finance, rupiah masih berada di level Rp18.025 per dolar AS pada pukul 07.05 WIB. Namun hanya berselang lima menit, tekanan jual meningkat tajam hingga kurs rupiah melemah ke posisi Rp18.229 per dolar AS.
Pergerakan tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar, terutama setelah sejumlah analis memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah lebih dalam hingga menyentuh level Rp19.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal terus berlanjut.
Meski demikian, data pasar spot menunjukkan kondisi yang sedikit berbeda. Berdasarkan Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah justru dibuka menguat 43 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp18.144 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS melemah 0,07 persen ke level 99,973.
Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah masih berada dalam tekanan dan diperdagangkan di kisaran Rp18.203 per dolar AS. Pelemahan di pasar NDF dipicu penguatan dolar AS secara global yang masih bertahan di level tinggi.
Selain faktor dolar, harga minyak dunia yang masih bertengger di sekitar US$94,06 per barel juga menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Tingginya harga energi berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa impor dan memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Ironisnya, pelemahan rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia naik 0,31 persen, won Korea Selatan melonjak 0,77 persen, dolar Singapura menguat 0,10 persen, yuan China naik 0,07 persen, dan peso Filipina terapresiasi 0,07 persen.
Di kelompok mata uang negara maju, euro, poundsterling Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss juga tercatat menguat terhadap dolar AS.
Sepanjang tahun 2026, rupiah telah kehilangan hampir 10 persen nilainya. Pada awal tahun, kurs rupiah masih berada di kisaran Rp16.683 per dolar AS. Kini, mata uang nasional berada di salah satu level terlemah dalam beberapa tahun terakhir.
Tekanan tersebut semakin terasa setelah pada perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah ditutup melemah 151 poin terhadap dolar AS dan sempat menyentuh level Rp18.187 per dolar AS.
Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan Bank Indonesia serta respons pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Pasalnya, apabila pelemahan terus berlanjut menuju level Rp19.000 per dolar AS, dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor, mulai dari harga barang impor, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat.
Dengan tekanan global yang belum mereda dan ketidakpastian pasar keuangan internasional yang masih tinggi, pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan akan menjadi salah satu indikator utama kesehatan ekonomi nasional. (Firman/Mun)
-
NASIONAL01/08/2026 07:00 WIBKPK Buka Babak Baru Kasus Korupsi DJKA Medan
-
POLITIK01/08/2026 06:00 WIBJPPR Desak KPU RI Lepas Rekrutmen KPUD
-
OASE01/08/2026 05:00 WIBPesan Tegas Al-Qur’an untuk yang Sering Menyalahkan Keadaan
-
JABODETABEK01/08/2026 06:30 WIB5 Titik SIM Keliling Jakarta Resmi Dibuka
-
NASIONAL01/08/2026 11:00 WIBIsu Nuklir Disinggung, Siaran Prabowo Mendadak Berhenti
-
NASIONAL01/08/2026 10:00 WIBKPK: Pemanggilan Raja Juli Tergantung Bukti
-
OTOTEK01/08/2026 11:30 WIBBegini Cara Mengetahui Password Gmail yang Lupa
-
EKBIS01/08/2026 07:30 WIBPertamax Resmi Turun Mulai Hari Ini

















