Connect with us

NASIONAL

Bung Karno Massa Aksi Bukan Sekadar Demo

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Dalam wacana politik Indonesia, istilah massa aksi kerap disederhanakan sebagai sekadar demonstrasi atau kerumunan orang yang turun ke jalan. Namun, jika ditelusuri dari pemikiran awal Soekarno, makna massa aksi ternyata jauh lebih dalam, strategis, dan ideologis.

Soekarno menolak keras penyederhanaan istilah tersebut. Baginya, tidak semua aksi massa yang berjumlah besar otomatis bisa disebut sebagai massa aksi. Bahkan, dalam beberapa tulisannya, ia membedakan secara tegas antara massale actie (aksi massal) dan massa actie (aksi massa revolusioner).

Bukan Sekadar Banyak Orang di Jalan

Dalam perspektif Soekarno, massale actie hanyalah pergerakan rakyat dalam jumlah besar, tetapi tidak memiliki arah politik yang radikal. Gerakan seperti ini bisa saja melibatkan ribuan hingga jutaan orang, namun tidak bertujuan membongkar struktur masyarakat lama.

Sebagai contoh, Soekarno menyinggung organisasi seperti Sarekat Islam pada masa awal sebagai bentuk massale actie—besar secara jumlah, tetapi belum revolusioner secara ideologi.

Massa Aksi Harus Sadar dan Terorganisir

Berbeda dengan itu, massa aksi yang dimaksud Soekarno adalah kekuatan rakyat yang sadar secara politik, terorganisir, dan memiliki tujuan revolusioner yang jelas.

Massa aksi bukan hanya bergerak karena emosi atau spontanitas, tetapi digerakkan oleh kesadaran politik dan teori perjuangan yang matang.

Di sinilah peran penting organisasi, propaganda, kursus politik, hingga media perjuangan menjadi instrumen utama untuk membentuk kesadaran massa.

Dipengaruhi Tan Malaka dan Tradisi Revolusi Kiri

Konsep ini tidak berdiri sendiri. Pemikiran Soekarno banyak bersinggungan dengan gagasan Tan Malaka, yang dalam karyanya Massa Actie (1926) menekankan pentingnya aksi terorganisir berbasis massa luas.

Tan Malaka menolak keras aksi kecil yang bersifat rahasia dan elitis, atau yang ia sebut sebagai putch. Menurutnya, tanpa keterlibatan rakyat luas, sebuah gerakan hanya akan menjadi petualangan politik yang gagal.

Revolusi Tidak Lahir dari Kerumunan

Baik Soekarno maupun Tan Malaka sepakat bahwa revolusi bukan hasil dari teriakan atau kerumunan spontan. Revolusi lahir dari pertentangan sosial yang matang, kesadaran politik, serta organisasi yang kuat.

Dalam pandangan ini, massa tidak boleh dibiarkan bergerak tanpa arah. Mereka harus dibimbing, diedukasi, dan diarahkan menuju perubahan struktural.

Tiga Pilar Massa Aksi Menurut Soekarno

Dari berbagai tulisan Soekarno seperti Indonesia Menggugat, dapat dirangkum bahwa massa aksi memiliki tiga ciri utama:

Pertama, bersifat radikal—ingin mengubah struktur masyarakat lama secara total.
Kedua, dipandu kesadaran politik dan teori perjuangan.
Ketiga, terorganisir dan tidak bersifat spontan tanpa arah.

Tanpa tiga hal ini, pergerakan massa hanya akan menjadi kerumunan besar tanpa kekuatan politik yang nyata.

Relevansi di Era Modern

Meski lahir dari konteks kolonial, konsep massa aksi masih relevan untuk membaca dinamika gerakan sosial hari ini. Tidak semua aksi besar otomatis memiliki dampak politik jangka panjang jika tidak memiliki struktur, arah, dan kesadaran kolektif.

Dengan kata lain, bagi Soekarno, kekuatan sejati bukan pada jumlah orang yang turun ke jalan, tetapi pada seberapa sadar dan terorganisirnya mereka dalam memperjuangkan perubahan. (Mun)

TRENDING