Connect with us

EKBIS

Kejar Swasembada Gula, Mentan Amran Perkuat Produksi Tebu Nasional

Aktualitas.id -

Mentan Andi Amran Sulaiman
Mentan Andi Amran Sulaiman

AKTUALITAS.ID – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong peningkatan produksi tebu dan penguatan industri gula dari sektor hulu hingga hilir untuk mempercepat swasembada gula nasional. Langkah tersebut mendapat dukungan DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia yang meminta seluruh pabrik gula rafinasi membangun kebun tebu sendiri dan memperluas kemitraan dengan petani.

“Produksi tebu harus kita tingkatkan, produktivitas diperkuat, dan hilirisasi harus berjalan agar nilai tambah dinikmati petani serta industri nasional. Swasembada gula hanya bisa dicapai jika sektor hulu dan hilir bergerak bersama,” kata Amran di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Amran menjelaskan, ketersediaan bahan baku menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan pabrik gula. Pasokan tebu yang mencukupi dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani.

Penguatan sektor hulu juga dinilai harus berjalan seiring dengan pengembangan industri pengolahan. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga memperkuat hilirisasi dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.

BACA JUGA  Pasok Pakan-Energi Etanol, Mentan dan Polri Perkuat Produksi Jagung

“Kalau hulunya kuat, hilirnya kuat, maka industri gula nasional akan kuat. Tujuan akhirnya bukan hanya swasembada gula, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani tebu dan memperkuat ekonomi nasional melalui hilirisasi,” tegas Amran.

Ketua Dewan Pembina DPP APTRI HM Arum Sabil menyatakan, penguatan industri gula nasional harus melibatkan seluruh pabrik gula kristal putih dan pabrik gula kristal rafinasi. Kedua kelompok industri tersebut dinilai memiliki peran berbeda, tetapi harus terhubung dalam satu sistem pergulaan nasional.

Arum mengusulkan agar pabrik gula rafinasi tidak hanya mengolah gula mentah impor untuk kebutuhan industri makanan dan minuman. Perusahaan rafinasi juga perlu berinvestasi di sektor hulu dengan membangun kebun tebu dan membentuk kemitraan berkelanjutan bersama petani.

“Pabrik gula rafinasi harus menjadi bagian utuh dari mata rantai pergulaan nasional dengan ikut membangun kebun tebu, memperluas kemitraan bersama petani, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat fondasi swasembada gula Indonesia,” ujar Arum.

BACA JUGA  Kementan Dukung Penguatan Perbibitan Ternak

Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Pertanian, luas areal tebu nasional pada 2026 meningkat dari sekitar 563.000 hektare menjadi 576.537,70 hektare. Produktivitas juga naik dari 69,35 ton menjadi 70,87 ton per hektare.

Rendemen tebu tercatat meningkat dari 6,83 persen menjadi 7,45 persen. Perbaikan luas tanam, produktivitas, dan rendemen tersebut mendorong proyeksi produksi gula kristal putih nasional mencapai sekitar 3,044 juta ton pada 2026.

Proyeksi itu lebih tinggi dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 2,67 juta ton. Jumlah tersebut diperkirakan melampaui kebutuhan gula konsumsi rumah tangga nasional yang berada di kisaran 2,9 juta ton.

Namun, kebutuhan gula untuk industri makanan dan minuman masih mencapai sekitar 3,8 juta hingga 3,9 juta ton setiap tahun. Kebutuhan sektor industri tersebut selama ini banyak dipenuhi melalui gula kristal rafinasi yang bahan bakunya masih berkaitan dengan pasokan impor.

BACA JUGA  Kementan: Harga Daging Ayam Terkendali

Kondisi itu menjadi alasan pemerintah mendorong keterlibatan industri rafinasi dalam pembangunan kebun tebu di dalam negeri. Investasi di sektor hulu diharapkan memperkuat pasokan bahan baku, meningkatkan produktivitas lahan, dan memperluas manfaat ekonomi bagi petani.

Kementerian Pertanian juga menjalankan sejumlah program untuk memperkuat industri gula nasional. Program tersebut meliputi peremajaan kebun tebu, penggunaan benih unggul, mekanisasi budidaya, penyediaan pupuk, pembangunan infrastruktur pendukung, dan revitalisasi pabrik gula.

Pemerintah menilai swasembada gula membutuhkan sinergi antara kementerian, petani, BUMN, pabrik gula, dan perusahaan rafinasi. Integrasi tersebut diperlukan agar peningkatan produksi berjalan bersamaan dengan penguatan industri pengolahan dan kepastian pasar bagi hasil panen petani.

TRENDING