EKBIS
Dolar AS Mulai Melemah, Rupiah Tancap Gas ke Rp17.900
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah tampil perkasa pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Setelah beberapa hari terjebak di atas level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Garuda akhirnya berhasil merebut kembali level psikologis penting yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah melesat 158 poin atau menguat 0,88 persen ke posisi Rp17.900 per dolar AS. Penguatan tersebut menjadi salah satu lonjakan terbesar yang terjadi dalam sesi pembukaan perdagangan tahun ini.
Kinerja tersebut jauh lebih baik dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di level Rp18.058 per dolar AS. Artinya, tekanan terhadap rupiah mulai mereda setelah sempat mengalami pelemahan berkepanjangan sepanjang tahun berjalan.
Data Bloomberg menunjukkan hingga pukul 10.25 WIB, rupiah masih bertahan di zona hijau pada level Rp17.997,5 per dolar AS. Posisi tersebut mengindikasikan apresiasi sebesar 60,5 poin atau 0,34 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sementara data Yahoo Finance mencatat rupiah bergerak di kisaran Rp18.136 per dolar AS. Perbedaan angka antarplatform lazim terjadi karena metode pencatatan dan waktu pembaruan data yang berbeda.
Mengacu data Refinitiv, rupiah bahkan sempat dibuka di level Rp17.875 per dolar AS atau menguat 0,97 persen. Level tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa rupiah kembali masuk ke area Rp17.000 setelah beberapa hari bertahan di atas Rp18.000.
Keberhasilan rupiah kembali ke bawah level Rp18.000 dinilai menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan nasional. Angka tersebut selama ini dianggap sebagai batas psikologis yang mencerminkan sentimen investor terhadap aset Indonesia.
Penguatan rupiah sejalan dengan meningkatnya optimisme di pasar keuangan domestik. Pelaku pasar mulai melihat adanya peluang stabilisasi nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pergerakan suku bunga internasional.
Secara teknikal, penguatan hampir 1 persen dalam satu sesi pembukaan tergolong besar untuk pergerakan mata uang. Kondisi ini umumnya dipicu kombinasi melemahnya indeks dolar AS global serta masuknya aliran modal asing ke pasar saham dan obligasi Indonesia.
Tekanan terhadap dolar AS juga terlihat dari pergerakannya terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Dolar AS tercatat melemah terhadap euro sebesar 0,03 persen. Terhadap poundsterling Inggris, mata uang Negeri Paman Sam juga turun 0,04 persen.
Bahkan terhadap dolar Australia, dolar AS melemah hingga 0,07 persen. Sementara terhadap yen Jepang dan dolar Kanada, pergerakan dolar AS cenderung stagnan.
Di sisi lain, dolar AS masih mampu menguat tipis 0,11 persen terhadap franc Swiss.
Meski menguat signifikan hari ini, perjalanan rupiah sepanjang 2026 masih belum sepenuhnya aman. Sepanjang tahun berjalan, dolar AS tercatat masih menguat sekitar 7,46 persen terhadap rupiah.
Artinya, penguatan hari ini lebih merupakan sinyal pemulihan jangka pendek yang masih membutuhkan dukungan sentimen positif berkelanjutan agar dapat bertahan dalam jangka panjang.
Para pelaku pasar kini menantikan arah kebijakan bank sentral global, data inflasi AS, serta perkembangan arus modal asing yang akan menentukan apakah rupiah mampu mempertahankan posisinya di bawah level Rp18.000 per dolar AS atau kembali tertekan dalam beberapa pekan mendatang. (Firman/Mun)
-
POLITIK20/07/2026 13:00 WIBPDIP Desak BGN Buka Data Kader yang Diduga Terlibat MBG
-
NUSANTARA20/07/2026 08:30 WIBHujan Tak Henti, Tapanuli Tengah Lumpuh Diterjang Banjir
-
NASIONAL20/07/2026 11:00 WIBDPR Minta Hotman Stop Bawa Nama Prabowo di Kasus Febrie
-
DUNIA20/07/2026 12:00 WIBMojtaba Khamenei: Amerika Akan Menyesal Jika Konflik Terus Dipicu
-
NASIONAL20/07/2026 10:00 WIBBawaslu Tantang Mahasiswa Adu Argumen Soal Hukum Pemilu
-
NASIONAL20/07/2026 09:00 WIBHina Wartawan, Iwakum Tuntut Hotman Minta Maaf Terbuka
-
NASIONAL20/07/2026 17:00 WIBPengembalian Amplop Uang Raja Juli Tak Hapus Dugaan Pidana
-
NASIONAL20/07/2026 17:30 WIBBRIN Sebut Pola Komunikasi Kepala Bakom Perlu Dievaluasi

















