Connect with us

DUNIA

Rp350 Triliun Kapal Induk AS Terancam Rusak

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Ambisi Amerika Serikat mengerahkan kekuatan penuh demi membela Israel dalam perang melawan Iran berbuah simalakama. Operasi militer intensif selama hampir enam bulan tanpa henti kini memicu krisis teknis mematikan di atas armada kapal induk Angkatan Laut AS. Dua monster laut bernilai fantastis mencapai US$ 22 miliar (sekitar Rp 350 triliun) USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford dilaporkan mengalami keausan parah dan berisiko lumpuh

Laporan eksklusif MS Now mengungkap skenario mengerikan di balik kemegahan dua kapal induk tersebut. Dipaksa berlayar tanpa pernah bersandar satu kali pun, komponen-kompenen vital alutsista tercanggih Washington kini rusak beruntun. Kerusakan menular dari sistem mekanis utama seperti ketapel peluncur jet tempur (catapult) serta kabel penahan pendaratan pesawat, hingga fasilitas dasar bagi para prajurit.

BACA JUGA  Latihan Bersama AS dan Jepang, Kapal Induk Inggris Dikirim ke Perairan Dekat China

Kondisi di dalam kapal dilaporkan makin tak manusiawi bagi ribuan kru yang bertugas. Pipa-pipa kapal bocor, sistem pendingin udara (AC) mati total di tengah panasnya perairan Timur Tengah, fasilitas toilet rusak parah dalam waktu lama, hingga lenyapnya pasokan air panas.

Krisis ini melanda hebat USS Abraham Lincoln yang mencetak rekor berlayar 208 hari nonstop demi menerbangkan lebih dari 10.000 misi serangan udara. Isyarat bahaya ini memicu kepanikan di kalangan purnawirawan perwira tinggi militer AS.

“Kita telah memacu kapal-kapal kita secara berlebihan. Semakin lama Anda memaksanya bekerja keras di laut, semakin banyak waktu yang dibutuhkan Angkatan Laut untuk pemeliharaan saat kapal tersebut tidak siap ditugaskan,” kritik keras Brent Sadler, peneliti senior Heritage Foundation sekaligus pensiunan Kapten AL AS.

BACA JUGA  Kemhan Pastikan Kapal Induk untuk Misi Non-Tempur

Meski Juru Bicaranya Armada Ke-5 Angkatan Laut AS, Komander Joseph Hontz, berdalih armada masih beroperasi penuh dan siap melakukan perbaikan darurat, kelelahan operasional ini dipastikan bakal melumpuhkan kesiapan tempur jangka panjang Pentagon. (Mun)

TRENDING