Connect with us

Berita

Hashim Sebut Indonesia Mampu Biayai MBG jika Penerimaan Negara Optimal

Aktualitas.id -

Seorang murid menyantap makanan bergizi gratis di SD Barunawati, Palmerah, Jakarta Barat

AKTUALITAS.ID – Program andalan pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih kerap diklaim terhambat oleh keterbatasan anggaran. Namun, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, membantah keras narasi tersebut dan menuding lemahnya kinerja aparat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) serta Bea Cukai sebagai biang kerok utamanya.

Berbicara dalam Rapimnas Kadin di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (29/10/2026), Hashim menegaskan Indonesia memiliki kapasitas fiskal raksasa yang tidak digali maksimal.

“Maka selalu diproklamirkan pemerintah tidak bisa membiayai MBG, tidak bisa membiayai Kopdes. Sebetulnya Indonesia mampu. Indonesia tidak lemah, yang lemah aparatnya yang harus kita efisienkan,” sentil Hashim tajam.

Hashim membongkar data miris dari Bank Dunia yang menunjukkan sekitar 30-40 persen aktivitas ekonomi di Indonesia—senilai kurang lebih Rp10.000 triliun—tak tersentuh radar perpajakan. Kebocoran masif ini membuat rasio penerimaan negara hanya mentok di angka 12 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka tersebut membuat Indonesia kalah telak dari negara tetangga seperti Kamboja yang menyentuh 18 persen dan Vietnam di level 23 persen.

Menurut perhitungan Hashim, jika aparat pajak dan bea cukai bekerja sekelas Kamboja saja, Indonesia akan meraup tambahan uang segar hingga Rp1.500 triliun setiap tahun. Dana sebesar itu tidak hanya akan mengamankan pembiayaan MBG, tetapi juga bisa memutarbalikkan status APBN dari defisit menjadi surplus Rp900 triliun tahun ini.

Untuk menghentikan kebocoran fatal ini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyiapkan operasi pemungutan pajak gaya baru. Tidak sekadar mengandalkan tenaga manusia, pemerintah segera mengerahkan sistem elektronik dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna melacak transaksi tak kasat mata. Manuver digital ini ditargetkan mampu mendongkrak rasio penerimaan negara menjadi 18 persen dalam dua hingga tiga tahun ke depan. (Bowo/Mun)

TRENDING

Exit mobile version