Connect with us

NUSANTARA

BMKG Pastikan Musim Hujan 2026 Mundur & Durasinya Disunat

Aktualitas.id -

Ilustras, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Ancaman kemarau panjang berkepanjangan nyata membayangi Tanah Air. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja merilis proyeksi iklim yang menjadi alarm bahaya bagi sektor ketahanan pangan dan sumber daya air nasional: awal musim hujan 2026/2027 dipastikan datang terlambat.

Data BMKG mengungkap fakta yang mengkhawatirkan. Sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen wilayah daratan Indonesia akan mengalami kemunduran jadwal musim hujan dari kondisi normal klimatologisnya. Sebaliknya, hanya segelintir wilayah (26 ZOM atau 2,15 persen) yang jadwal hujannya masih “selamat” alias sesuai pola normal. Artinya, mayoritas penduduk Indonesia harus bersiap menghadapi sengatan kemarau yang jauh lebih panjang.

Jawa dan Wilayah Selatan Baru Basah Desember

Siklus hujan diprediksi merayap sangat lambat dari ujung Sumatera bagian utara. Pada November 2026, hujan baru akan “mampir” di 185 ZOM (24,66 persen wilayah). Daerah ini hanya mencakup sebagian Sumatera, sebagian kecil Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), secuil Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, hingga sebagian Papua.

Bagi lumbung pangan dan pulau terpadat seperti sebagian besar Jawa, warga harus menelan pil pahit menunggu hingga Desember 2026. Pada bulan terakhir ini, barulah hujan diprediksi mulai mengguyur sebagian besar Jawa, Lampung, Kalimantan Selatan, mayoritas Bali, NTB, NTT, hingga Papua Selatan.

Sudah Mundur, Durasinya Dipangkas

Seolah keterlambatan ini belum cukup menjadi mimpi buruk, BMKG juga merilis proyeksi durasi hujan yang jauh dari kata melegakan. Sebanyak 482 ZOM (51,90 persen daratan Indonesia) diprediksi akan mengalami durasi musim hujan yang lebih pendek dari biasanya. Ironisnya, kawasan Indonesia bagian selatan yang secara historis rawan kekeringan, menjadi wilayah yang paling terdampak oleh singkatnya durasi hujan ini.

Meski BMKG menyebut 69,76 persen wilayah masih akan menerima akumulasi curah hujan dengan intensitas “normal”, kombinasi mematikan antara hujan yang datang terlambat dan durasi yang sangat singkat jelas mengancam masa tanam petani dan ketersediaan air bersih.

Pemerintah pusat hingga daerah kini berpacu dengan waktu. Pergeseran pola musim ini bukan lagi sekadar data statistik di atas kertas, melainkan ancaman langsung terhadap perut jutaan rakyat jika strategi mitigasi pangan dan air tidak segera dieksekusi dari sekarang. (Irawan/Mun)

TRENDING

Exit mobile version