Connect with us

DUNIA

Kushner Tuding Netanyahu Jadi Penghambat Masa Depan Gaza

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan berada di titik didih. Retaknya kesepahaman ini dipicu oleh perselisihan tajam antara Jared Kushner – menantu sekaligus penasihat senior Presiden Donald Trump – dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terkait masa depan dan tata kelola pascaperang di Jalur Gaza.

Laporan eksklusif stasiun televisi Israel, Channel 14, mengungkapkan bahwa diskusi kedua tokoh penting itu berlangsung memanas dalam beberapa hari terakhir. Kushner tanpa ragu melemparkan tuduhan keras bahwa Netanyahu adalah pihak yang secara sengaja menghambat dan menyabotase roadmap perdamaian yang didukung penuh oleh Washington.

Rencana besar AS yang disusun bersama mitra regional dan internasional itu sejatinya menuntut langkah-langkah praktis segera untuk memulihkan Gaza. Namun, jalan mulus yang dirancang Washington justru dihadang tembok tebal oleh ambisi keamanan Netanyahu.

Di tengah desakan internasional agar transisi politik dan rekonstruksi Gaza segera dimulai, Netanyahu secara tegas menolak tunduk pada skenario AS. Pemimpin veteran Israel itu mematok syarat yang hampir mustahil ditawar: jaminan keamanan penuh dan demiliterisasi total tanpa kompromi.

Garis keras yang diambil Netanyahu menuntut penyerahan total seluruh persenjataan serta pembongkaran total infrastruktur militer milik seluruh faksi perlawanan Palestina di Gaza. Bagi Tel Aviv, tidak ada kompromi politik atau urusan administratif apa pun sebelum kawasan kantong tersebut bersih dari potensi ancaman militer.

“Israel tidak akan menyetujui formula apa pun untuk pengelolaan atau restrukturisasi Jalur Gaza sebelum tujuan utama, yakni demiliterisasi total kawasan tersebut, benar-benar tercapai,” tegas laporan Channel 14 mengutip pernyataan Netanyahu kepada Kushner.

Benturan keras ini memperanjat publik internasional. Di satu sisi, Washington bersama sekutu global mendorong percepatan penataan tata kelola dan rekonstruksi fisik Gaza agar krisis kemanusiaan tidak makin membusuk. Di sisi lain, Tel Aviv memilih menahan rem secara ekstrem demi prioritas keamanan versi mereka sendiri.

Kesenjangan tajam ini menegaskan jurang pemisah yang kian lebar antara dorongan politik AS yang ingin hasil serba cepat dengan manuver pragmatis-militeris Israel di lapangan.

Hingga berita ini diturunkan, baik pihak Gedung Putih maupun kantor Perdana Menteri Israel masih memilih bungkam dan belum memberikan konfirmasi resmi terkait kebocoran ketegangan diplomatik tersebut. Namun, sinyal pecahnya konsensus AS-Israel ini dipastikan bakal menambah keruh arah penyelesaian konflik di Gaza. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version