DUNIA
Erdogan Gagalkan Rencana Gila CIA
AKTUALITAS.ID – Rencana rahasia Amerika Serikat dan Israel untuk mempersenjatai milisi Kurdi demi menggulingkan rezim Iran bocor. Adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang turun tangan langsung menggagalkannya.
Skandal ini dibongkar The Telegraph. Menurut pejabat yang terlibat, rencana itu dirancang CIA dan Mossad pasca kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Gedung Putih pada Februari lalu.
Skenarionya gila: ribuan milisi Kurdi dari Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG) di Irak akan dipersenjatai, dilindungi payung udara AS, lalu menyeberang ke Iran untuk memicu pemberontakan besar.
Bahkan enam faksi Kurdi Iran disebut sudah bergabung dan koalisi itu sudah siap tempur pada 18 Maret, tinggal menunggu lampu hijau dari Donald Trump. Bersamaan dengan itu, Israel gencar menggempur Iran barat pangkalan militer, sistem rudal, hingga markas Basij.
Namun Erdogan mengendus bahaya itu. Mengutip sumber Israel dan negara-negara Teluk, Erdogan yang disebut sebagai salah satu pemimpin paling dipercaya Trump langsung melobi Gedung Putih.
Pesan Erdogan keras: “Ia tidak akan mentolerir kemerdekaan Kurdi di mana pun di wilayah tersebut.”
Bagi Ankara, mempersenjatai Kurdi di Iran sama saja mempersenjatai musuh bebuyutannya di perbatasan timur Turki.
Lobi Erdogan berhasil. Operasi mulai goyah setelah bocor ke media AS. Gedung Putih membantah, dan Trump sendiri disebut menyebut skenario invasi darat Kurdi itu “konyol” saat diberi briefing oleh Direktur CIA John Ratcliffe.
Seorang pejabat senior Israel mengakui, intelijen tak pernah menjamin perubahan rezim akan berhasil.
“Intelijen tidak menjanjikan bahwa itu akan terjadi. Mereka mengatakan Anda dapat meningkatkan kemungkinan,” katanya.
Kegagalan ini bikin Tel Aviv berang. Direktur Mossad Roman Gofman bahkan memecat dua pejabat tinggi yang menyiapkan rencana tersebut.
Isu ini kembali dibahas saat Trump bertemu Netanyahu di Gedung Oval pada 28 Juli, seperti dilaporkan Harici. Netanyahu masih ngotot perubahan rezim bisa terjadi, tapi Trump tak bergeming. Trump kini disebut lebih memilih blokade ekonomi jangka panjang ketimbang perang terbuka dengan Iran.
Negara-negara Teluk pun ikut menekan Washington, memperingatkan perang etnis di Iran bisa meledakkan stabilitas seluruh Timur Tengah. (Mun)
-
JABODETABEK19/08/2026 05:30 WIBBMKG Ungkap Jam Rawan Hujan di Jakarta Rabu
-
POLITIK19/08/2026 10:00 WIBDicecar Wartawan Soal Uang Dollar, Raja Juli Mendadak Bungkam
-
OASE19/08/2026 05:00 WIBAl-Qur’an Bongkar Rahasia Keadilan Allah di Hari Kiamat
-
NUSANTARA19/08/2026 07:30 WIBAnak Krakatau Erupsi 19 Kali di Hari Kemerdekaan
-
DUNIA19/08/2026 08:00 WIBDrone Houthi Ledakkan Kilang Minyak Saudi
-
NUSANTARA19/08/2026 08:30 WIBPendaki Brebes Terpeleset ke Kawah Slamet
-
NASIONAL19/08/2026 11:00 WIBIstana Putuskan Guru PPPK Jadi Pegawai Pusat
-
DUNIA19/08/2026 18:00 WIBIsrael Kaget Iran Bisa Produksi Ribuan Rudal

















