Connect with us

DUNIA

Serangan Houthi ke Riyadh Bikin AS Siaga

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id -ai

AKTUALITAS.ID – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih yang sangat berbahaya. Serangan rudal mematikan dari kelompok Houthi Yaman yang langsung menyasar jantung ibu kota Arab Saudi, Riyadh, sukses memicu kepanikan luar biasa sekaligus membuat Amerika Serikat ketar-ketir.

Eskalasi tak terduga ini memaksa Presiden AS Donald Trump mendadak meluncur ke Gedung Putih pada Sabtu (19/9/2026) untuk menggelar rapat darurat. Gedung Putih bungkam soal detail langkah Trump, namun Departemen Luar Negeri AS tak menutupi kekhawatiran mereka bahwa Timur Tengah sedang berada di ambang peperangan berskala besar.

“Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat,” bunyi peringatan keras dari Departemen Luar Negeri AS. Buntutnya, Washington langsung mengeluarkan imbauan agar seluruh warga Amerika mempertimbangkan ulang atau menunda perjalanan ke seluruh kawasan Timur Tengah.

Bagi warga Riyadh, malam itu adalah malam penuh teror. Tepat sebelum pukul 03.00 dini hari waktu setempat, ponsel warga berdering serentak membawa pesan mencekam: “Wilayah ini berada di bawah ancaman serangan udara musuh.”

Penduduk diminta berlindung di dalam ruangan. Tak berselang lama, dua ledakan dahsyat memecah keheningan malam. “Saya mendengar bunyi alarm yang sangat keras, lalu jendela rumah saya bergetar hebat. Ini benar-benar mengerikan,” ungkap seorang warga Riyadh yang masih syok.

Status siaga baru dicabut oleh badan pertahanan sipil Saudi setengah jam kemudian. Serangan ke ibu kota ini adalah yang pertama kalinya sejak perang saudara di Yaman kembali berkecamuk dan sukses menambah tekanan fatal pada ekonomi global. Apalagi, serangan brutal Houthi di Yaman baru-baru ini telah memakan ratusan korban jiwa dan mengusir 110 ribu warga dari rumah mereka.

Krisis ini semakin panas dengan adanya sentimen agama. Hanya beberapa hari sebelum Riyadh dibombardir, Arab Saudi menuding Houthi secara pengecut menargetkan Kota Suci Mekkah. Tuduhan “serangan teroris” ini langsung ditepis mentah-mentah oleh Houthi yang menyebut klaim Saudi sebagai kebohongan belaka.

Namun, di tengah ancaman kiamat regional ini, sikap Amerika Serikat justru menjadi sorotan tajam. Menurut laporan Axios, Washington pekan lalu secara tegas menolak permintaan Saudi untuk menyerang balik Houthi secara militer.

Ironisnya, meski menolak membantu lewat serangan langsung, AS tak melewatkan peluang bisnis. Pada hari Kamis, Departemen Luar Negeri AS justru menyetujui penjualan 48 jet tempur canggih F-35 senilai US$ 24,3 miliar (sekitar Rp 360 triliun) kepada Riyadh. Bantuan militer ditolak, tapi jualan senjata miliaran dolar tetap jalan terus dengan alasan “membantu Riyadh menangkal ancaman”. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version