Connect with us

NASIONAL

Era Prabowo, Alutsista Baru Berdatangan ke Tanah Air

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id -ai

AKTUALITAS.ID – Modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia kembali menjadi sorotan seiring digelarnya TNI Fair 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada 19-20 September 2026.

Ajang tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat berbagai alutsista dan perlengkapan TNI dari tiga matra, sekaligus menyaksikan perkembangan teknologi pertahanan Indonesia.

Sorotan terbesar tahun ini datang dari kedatangan ITS Giuseppe Garibaldi, kapal perang bekas Angkatan Laut Italia yang kini menjadi KRI Sriwijaya. TNI AL memastikan kapal tersebut merupakan kapal induk pertama dalam jajaran armadanya.

KRI Sriwijaya Jadi Sorotan Utama

Kapal yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi tiba di Dermaga 107 Tanjung Priok pada Jumat (18/9/2026), setelah berlayar dari Italia sejak 24 Agustus.

Kementerian Pertahanan menyebut kapal tersebut menempuh perjalanan sekitar 6.870 mil laut melalui Terusan Suez, Laut Merah, dan Samudra Hindia sebelum memasuki perairan Indonesia melalui ALKI I.

KRI Sriwijaya merupakan kapal jenis through-deck aviation cruiser. Kapal ini memiliki geladak penerbangan yang dapat mendukung operasi berbagai helikopter.

Pemerintah menyatakan kapal tersebut akan dioptimalkan terutama untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), termasuk penanggulangan bencana dan distribusi bantuan ke wilayah terpencil.

Dengan kedatangannya, Indonesia memasuki babak baru dalam pengoperasian kapal penerbangan berukuran besar.

Rafale Mulai Memperkuat TNI AU

Di udara, pesawat tempur Dassault Rafale menjadi salah satu alutsista paling mencolok dalam agenda modernisasi pertahanan.

Kementerian Pertahanan mengonfirmasi bahwa enam Rafale telah diterima dalam rangkaian penerimaan alutsista pada 2026. Enam unit tersebut merupakan bagian dari pengadaan Rafale Indonesia.

Kedatangan Rafale menandai masuknya Indonesia ke jajaran negara pengguna pesawat tempur tersebut di kawasan Asia Tenggara.

Pada acara penerimaan alutsista di Lanud Halim Perdanakusuma pada Mei 2026, enam Rafale menjadi bagian dari platform pertahanan udara yang diserahkan kepada TNI bersama sejumlah sistem pendukung lainnya.

A400M Tambah Daya Angkut Strategis

Modernisasi TNI AU tidak hanya berfokus pada pesawat tempur.

Indonesia juga mengoperasikan Airbus A400M Atlas, pesawat angkut strategis yang dirancang untuk membawa personel, kendaraan, logistik, serta berbagai kebutuhan misi kemanusiaan.

Kementerian Pertahanan sebelumnya menyebut Indonesia memesan dua A400M. Pesawat tersebut juga memiliki peran penting untuk mobilitas bantuan dalam kondisi bencana.

Kemampuan tersebut telah dimanfaatkan pemerintah dalam misi kemanusiaan. Pada Agustus 2026, salah satu A400M digunakan untuk membawa sekitar 20 ton bantuan ke Nusa Tenggara Timur setelah gempa.

Falcon 8X dan T-50i Ikut Bertambah

Selain Rafale dan A400M, TNI AU juga menerima empat Dassault Falcon 8X dalam rangkaian penerimaan alutsista pada Mei 2026. Pesawat ini berada dalam kategori pesawat angkut atau transportasi strategis, bukan pesawat tempur.

Indonesia juga menerima tambahan T-50i Golden Eagle, pesawat jet yang digunakan untuk kebutuhan pelatihan penerbang sekaligus memiliki kemampuan menjalankan misi tertentu.

Kehadiran berbagai jenis pesawat tersebut menunjukkan bahwa modernisasi udara tidak hanya menyangkut kekuatan tempur, tetapi juga mobilitas, pelatihan, transportasi, dan dukungan operasi.

Armada Laut Ikut Berubah

Modernisasi juga berlangsung di lingkungan TNI AL.

Dua kapal kelas Brawijaya, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, menjadi bagian dari kekuatan kapal permukaan terbaru Indonesia.

Keduanya bahkan mendapat tugas mengawal ITS Giuseppe Garibaldi ketika kapal tersebut memasuki perairan Indonesia.

Kedatangan kapal induk kemudian membuat kombinasi tersebut menjadi perhatian besar dalam TNI Fair 2026.

Bukan Sekadar Pamer Alutsista

Modernisasi alutsista Indonesia berlangsung ketika pemerintah berupaya meningkatkan kemampuan pertahanan nasional.

Namun, bertambahnya platform baru juga membawa konsekuensi berupa kebutuhan pemeliharaan, kesiapan personel, infrastruktur, pelatihan, serta anggaran operasional dalam jangka panjang.

Khusus KRI Sriwijaya, pemerintah menyatakan pemanfaatannya akan diarahkan antara lain untuk misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Kementerian Pertahanan menyebut hasil peninjauan awal menunjukkan kondisi fisik dan sistem kapal dapat dioptimalkan untuk kebutuhan tersebut.

Dengan demikian, ukuran modernisasi bukan hanya berapa banyak alutsista yang datang, tetapi juga bagaimana seluruh platform tersebut dipelihara dan diintegrasikan untuk menjalankan tugas TNI.

Dari Rafale di udara, A400M untuk mobilitas, hingga KRI Sriwijaya di laut, TNI Fair 2026 menjadi panggung yang memperlihatkan perubahan besar dalam wajah alutsista Indonesia. (Andrey/Mun)

TRENDING

Exit mobile version