Connect with us

POLITIK

Bagja: Masa Depan Bawaslu Dibahas di Arena Debat Mahasiswa

Aktualitas.id -

Ketua Bawaslu RI, Rahmat Bagja, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI secara resmi menantang para mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk membedah dan mengkritisi penegakan hukum pemilu di Tanah Air. Tantangan ini menjadi panggung adu gagasan terakhir yang digelar oleh Bawaslu periode 2022–2027.

Ketua Bawaslu RI, Rahmat Bagja, menegaskan bahwa Kompetisi Debat Penegakan Hukum Pemilu VI Antar Perguruan Tinggi se-Indonesia bukan sekadar ajang kumpul mahasiswa. Forum ini dirancang sebagai kawah candradimuka untuk menguji argumentasi terkait carut-marut maupun idealisme pelaksanaan Undang-Undang Pemilu.

“Semoga debat kali ini menghasilkan usulan mahasiswa. Nanti adu debat bagaimana undang-undang pemilu dilakukan,” ujar Bagja saat membuka tahapan nasional kompetisi bertema “Penguatan Lembaga Bawaslu Dalam Penegakan Hukum Pemilu” di Hotel Mercure Convention Ancol, Jakarta, Senin (21/9/2026).

Momen ini sekaligus menjadi salam perpisahan secara institusional bagi kepengurusan Bawaslu saat ini dalam menyelenggarakan kompetisi debat. Pelaksanaan di tahun 2027 mendatang dipastikan sudah berada di tangan komisioner periode 2027–2032.

Lebih tajam, Bagja turut membocorkan cetak biru masa depan Bawaslu. Ke depan, Bawaslu akan difokuskan sebagai lembaga tunggal penyelesaian sengketa administrasi—baik yang terjadi dalam proses tahapan maupun hasil akhir pemilu. Transformasi wewenang inilah yang membutuhkan suntikan ide segar dari mimbar akademis mahasiswa.

“Itulah pentingnya sekarang adanya adu debat ini, di mana seluruh argumentasi akan diuji,” tegas Bagja.

Bawaslu menuntut keberanian peserta dalam mempertahankan argumen. Bagja bahkan menginstruksikan para mahasiswa untuk bertarung gagasan tanpa setengah-setengah, meski tetap dengan satu syarat mutlak: tidak baperan.

“Berdebatlah dengan keras, sekeras-kerasnya, sekuat-kuatnya! Tapi ingat, perdebatan argumentasi tidak melahirkan permusuhan. Kita berusaha memperjuangkan demokrasi di Indonesia,” pesannya.

Tensi kompetisi tahun ini dipastikan panas. Dari total 370 regu perguruan tinggi se-Indonesia yang mendaftar dan bertarung di babak eliminasi, hanya 24 kampus elit yang berhasil merebut tiket ke Tahapan Nasional. Puluhan tim terpilih ini harus siap ‘dikuliti’ argumennya oleh 36 dewan juri lintas profesi yang terdiri dari pakar akademisi, praktisi hukum, hingga para mantan penyelenggara pemilu tingkat nasional. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version