Connect with us

EKBIS

Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS Hari ini

Aktualitas.id -

Ilustrasi rupiah melemah, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hebat pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026). Mata uang Garuda bahkan sempat menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap tekanan ekonomi global yang makin memanas.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.18 WIB, rupiah melemah 88 poin atau 0,51 persen ke level Rp17.502 per dolar AS.

Pelemahan ini membuat rupiah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada perdagangan hari ini.

Sementara itu, data Reuters mencatat rupiah berada di level Rp17.495 per dolar AS atau melemah 0,51 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.405 per dolar AS.

Di sisi lain, Yahoo Finance menunjukkan kurs rupiah berada di kisaran Rp17.410 per dolar AS pada waktu yang sama.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan tercatat menjadi mata uang paling terpukul setelah anjlok hingga 0,90 persen ke level 1.486,10 per dolar AS.

Peso Filipina juga melemah 0,81 persen, sementara yen Jepang, dolar Singapura, hingga baht Thailand ikut tertekan.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS.

Secara year to date (YTD), rupiah tercatat sudah melemah 4,72 persen sepanjang 2026 dibanding posisi akhir 2025 yang berada di level Rp16.670 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang Asia disebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan peluang kelanjutan gencatan senjata dengan Iran semakin kecil.

Situasi tersebut mendorong lonjakan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang lebih luas dan dampaknya terhadap harga minyak dunia.

Harga minyak yang tetap tinggi memicu kekhawatiran inflasi global sehingga pasar mulai memperkirakan suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama.

Kondisi ini membuat dolar AS semakin perkasa dan menekan mayoritas mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global yang terus meningkat. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version