Connect with us

EKBIS

IHSG Melemah Tajam di Awal Perdagangan

Aktualitas.id -

Ilustrasi IHSG anjlok, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak liar pada awal perdagangan Selasa (12/5/2026). Setelah sempat dibuka di zona hijau, pasar saham Indonesia langsung terseret ke area merah di tengah ketidakpastian global terkait nasib kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran.

Tekanan jual yang masif membuat IHSG terpantau melemah tajam sejak menit-menit awal perdagangan.

Mengutip data RTI pukul 09.20 WIB, IHSG anjlok 76,134 poin atau 1,10 persen ke level 6.829,486.

Padahal pada pembukaan perdagangan, indeks sempat berada di level hijau 6.946,845 sebelum akhirnya kehilangan tenaga dan terus tertekan.

IHSG tercatat bergerak fluktuatif dengan level tertinggi di 6.977 dan terendah menyentuh 6.827.

Sebanyak 367 saham mengalami pelemahan, sementara hanya 187 saham menguat dan 166 saham bergerak stagnan.

Tekanan jual juga terlihat dari tingginya aktivitas transaksi pasar.

Total volume perdagangan mencapai 5,287 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp2,077 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat berada di level Rp12.153,711 triliun.

Di tengah tekanan tersebut, kelompok saham unggulan LQ45 sempat menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,21 persen ke level 670,06.

Namun pelaku pasar tetap diliputi kekhawatiran karena secara akumulatif atau year-to-date, IHSG masih terkoreksi tajam hingga 20,14 persen dari level tertingginya di 8.646.

Sentimen global menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan pasar.

Ketidakpastian terkait arah hubungan Amerika Serikat dan Iran membuat investor cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham di emerging market seperti Indonesia.

Selain itu, perhatian investor hari ini juga tertuju pada pengumuman MSCI Indonesia Index yang dijadwalkan rilis pada 12 Mei 2026.

Momentum tersebut dinilai sangat penting bagi pasar modal domestik setelah MSCI sebelumnya membekukan indeks Indonesia pada Februari lalu.

Pelaku pasar berharap reformasi yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mampu membawa sentimen positif dan membuka kembali arus dana asing ke pasar Indonesia.

Deputi Kepala Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat, menilai keputusan MSCI kali ini akan menjadi penentu arah foreign flow ke pasar saham nasional dalam beberapa waktu ke depan. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version