Connect with us

NASIONAL

Menkes: Kemitraan Jadi Kunci Percepat Transformasi Kesehatan Indonesia

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut Indonesia masih menghadapi kebutuhan pembiayaan besar untuk mencapai target peningkatan usia harapan hidup dari 72 menjadi 76 tahun dan umur harapan hidup sehat dari 60 menjadi 65 tahun.

Budi menyampaikan hal itu dalam The 4th Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) 2026 di Jakarta, Selasa (15/9/2026). Menurut dia, transformasi sistem kesehatan nasional membutuhkan dukungan pembiayaan, termasuk dari mitra pembangunan global dan lembaga filantropi.

“Kalau kita ingin memperpanjang usia harapan hidup, cara yang paling murah adalah menjaga masyarakat tetap sehat, bukan menunggu mereka sakit kemudian mengobatinya,” kata Budi.

Ia menjelaskan kebutuhan pembiayaan untuk transformasi kesehatan secara keseluruhan mencapai sekitar 223 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, pemerintah telah menyediakan sekitar 203 miliar dolar AS, dengan sekitar 177 miliar dolar AS dialokasikan untuk kebutuhan transformasi. Dengan demikian, masih terdapat kebutuhan sekitar 26-27 miliar dolar AS yang perlu dipenuhi dalam lima tahun ke depan.

Dalam perhitungan Kementerian Kesehatan berdasarkan Rencana Induk Bidang Kesehatan (RIBK), kebutuhan pendanaan yang masih terbuka juga disebut mencapai sekitar Rp472,2 triliun. Saat ini, sebanyak 108 mitra pembangunan telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk mendukung berbagai program transformasi kesehatan.

Budi menekankan bahwa kerja sama dengan mitra pembangunan harus diarahkan pada program yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Menurut dia, kemitraan tidak cukup hanya berhenti pada komitmen pendanaan, tetapi harus terlihat dalam peningkatan layanan kesehatan.

“The distance between partnership and impact is delivery. Kemitraan hanya berarti jika diterjemahkan menjadi perbaikan nyata dalam kehidupan masyarakat—ketika anak mendapatkan vaksin, ibu dapat melahirkan dengan aman, TBC terdeteksi lebih awal, dan layanan kesehatan berkualitas tersedia bagi setiap masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Sejumlah program penguatan layanan kesehatan primer telah dilakukan pemerintah. Kementerian Kesehatan, misalnya, mendistribusikan sekitar 300 ribu alat antropometri ke Posyandu yang tersebar di sekitar 7.000 pulau berpenghuni.

Pemerintah juga telah mengirimkan 10 ribu alat ultrasonografi (USG) ke 10 ribu Puskesmas. Budi mengatakan sebelumnya hanya sekitar 22 persen Puskesmas yang memiliki fasilitas USG.

“Bayangkan Anda mau melahirkan tapi tidak dapat ultrasound satu pun untuk mengerti kondisi kehamilan Anda,” katanya.

Selain USG, pemerintah memperkuat fasilitas Puskesmas dengan mesin X-ray untuk mendukung skrining tuberkulosis (TBC). Pada 2026 ditargetkan sebanyak 2.000 unit X-ray dikirimkan, kemudian jumlahnya ditambah menjadi 4.000 unit pada tahun berikutnya.

Puskesmas juga mulai dilengkapi teknologi Near Point of Care Testing (NPOCT) Terminal dan teknologi diagnosis molekuler untuk membantu mendeteksi patogen maupun penyakit menular secara lebih cepat.

Di sisi pencegahan, pemerintah menjalankan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Berdasarkan data yang disampaikan Kemenkes, program tersebut telah menjangkau sekitar 70 juta orang pada tahun pertama dan meningkat menjadi sekitar 88 juta orang hingga Agustus 2026. Pemerintah menargetkan cakupan CKG mencapai 130 juta orang pada tahun ini.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, persoalan kesehatan gigi dan obesitas menjadi salah satu perhatian karena berkaitan dengan risiko berbagai penyakit tidak menular.

Transformasi kesehatan juga mencakup pengembangan tes genomik untuk memahami kondisi kesehatan berdasarkan karakteristik demografi masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan kesehatan dan pencegahan penyakit.

Budi mengatakan keberlanjutan berbagai program tersebut membutuhkan dukungan dari mitra pembangunan dan filantropi. Karena itu, pemerintah berupaya membangun kepercayaan melalui keterbukaan mengenai prioritas program, penggunaan pembiayaan, hasil, dan dampak yang dihasilkan.

“Kepercayaan adalah fondasi kemitraan. Kepercayaan harus diperoleh dan terus dijaga. Karena itu, kita harus terbuka mengenai prioritas, hasil, dampak, dan penggunaan pembiayaan. Kita harus bergerak dari partnership menuju impact,” ujar Budi.

TRENDING

Exit mobile version