EKBIS
Rupiah Ambruk! Dolar Nyaris Sentuh Rp18.000
AKTUALITAS.ID – Awal pekan kembali menjadi kabar buruk bagi nilai tukar rupiah. Setelah sempat menguat pada penutupan pekan lalu, mata uang Garuda kembali tertekan dan nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data perdagangan Senin (20/7/2026), rupiah dibuka di posisi Rp17.977 per dolar AS, melemah 56 poin atau sekitar 0,31 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.921 per dolar AS.
Data Bloomberg juga menunjukkan rupiah berada di level Rp17.977 per dolar AS, sedangkan Yahoo Finance mencatat rupiah bergerak di kisaran Rp17.939 per dolar AS.
Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan tekanan yang lebih besar. Rupiah bahkan sempat dibuka di level Rp17.960 per dolar AS, melemah 0,42 persen, sehingga kembali mendekati batas psikologis Rp18.000 per dolar AS yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Ironisnya, pelemahan rupiah terjadi hanya beberapa hari setelah mata uang nasional sempat menguat tajam 0,53 persen pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026) di level Rp17.885 per dolar AS.
Di kawasan Asia, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam pada perdagangan pagi ini. Rupiah terkoreksi sekitar 0,37 persen, lebih dalam dibandingkan dolar Taiwan, peso Filipina, baht Thailand, maupun dolar Hong Kong.
Sebaliknya, mayoritas mata uang Asia justru mampu menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan memimpin penguatan, diikuti ringgit Malaysia, dolar Singapura, yuan China, hingga yen Jepang.
Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata dipicu oleh penguatan dolar AS secara global. Bahkan Indeks Dolar AS (DXY) tercatat relatif stabil di kisaran 100,75, hampir tidak berubah dibandingkan perdagangan akhir pekan lalu.
Pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen ekonomi global, mulai dari arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia, perkembangan geopolitik, hingga arus modal yang masih bergerak sangat dinamis. Faktor-faktor tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pelemahan rupiah pada satu sesi perdagangan tidak serta-merta mencerminkan tren jangka panjang. Nilai tukar dapat berubah mengikuti perkembangan data ekonomi, kebijakan moneter, serta sentimen pasar global dalam beberapa hari ke depan. Investor dan pelaku usaha umumnya akan terus memantau perkembangan tersebut sebelum mengambil keputusan transaksi maupun investasi. (Firman/Mun)
-
FOTO04/09/2026 13:00 WIBFOTO: ACC Kembangkan Potensi Warga Desa Cibunian
-
EKBIS04/09/2026 12:30 WIBPertamina Batalkan Syarat STNK untuk Beli BBM
-
POLITIK04/09/2026 15:00 WIBBawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu
-
NASIONAL04/09/2026 09:45 WIBErna Sari Dewi: Stop Bicara Digital Desa Kalau Tak Didanai
-
JABODETABEK04/09/2026 15:30 WIBMengaku Disekap, 2 ART Akhirnya Dipulangkan Polisi
-
EKBIS04/09/2026 10:30 WIBDolar AS Melemah, Rupiah Naik ke Rp17.632
-
POLITIK04/09/2026 10:00 WIBBawaslu Waspadai Deepfake di Pemilu 2029, Minta Pengawasan AI Diatur UU
-
NASIONAL04/09/2026 16:00 WIBKarhutla Sumatera-Kalimantan, Komnas HAM Minta Perlindungan Warga Diperkuat