Connect with us

EKBIS

Harga Minyak Anjlok Setelah AS dan Iran Tahan Serangan

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKUTALITAS.ID – Harga minyak dunia mengalami koreksi tajam pada awal pekan setelah ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mereda. Penghentian sementara aksi saling serang selama akhir pekan membuat investor mulai melepas premi risiko yang sebelumnya mendorong harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Pada perdagangan Senin (27/7/2026), harga minyak Brent turun lebih dari 5 persen dan diperdagangkan di kisaran USD91,44 per barel, setelah sebelumnya sempat menembus level USD100 per barel pada pekan lalu.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga bergerak melemah. Berdasarkan data pasar, kontrak WTI turun ke kisaran USD89,31 per barel, menandai perubahan sentimen yang cukup tajam di pasar energi global.

Mengutip Reuters, harga Brent sempat turun USD4,89 atau sekitar 5,05 persen menjadi USD91,89 per barel, bahkan sempat diperdagangkan di bawah level psikologis USD90 per barel pada awal sesi. Di saat yang sama, WTI terkoreksi sekitar 5,23 persen menjadi USD84,64 per barel.

Tekanan jual muncul setelah Washington menghentikan operasi militernya usai 13 malam berturut-turut melakukan serangan. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan jeda operasi tersebut dimaksudkan untuk membuka ruang bagi proses diplomatik.

Langkah tersebut mendapat respons dari Iran. Seorang pejabat Iran menyatakan kepada Reuters bahwa Teheran juga akan menangguhkan serangan balasan selama penghentian operasi militer Amerika Serikat tetap berlangsung.

Meredanya ketegangan membuat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, khususnya jalur strategis Selat Hormuz, mulai berkurang. Akibatnya, investor yang sebelumnya membeli minyak karena risiko geopolitik mulai melakukan aksi ambil untung sehingga harga terkoreksi tajam.

Meski demikian, situasi belum sepenuhnya stabil. Baik Amerika Serikat maupun Iran masih membuka kemungkinan kembali melakukan aksi militer apabila proses diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan.

Dengan kondisi tersebut, pasar energi global diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam beberapa hari ke depan. Investor kini mencermati apakah jeda konflik benar-benar berkembang menjadi solusi diplomatik atau hanya bersifat sementara, yang dapat kembali memengaruhi harga minyak dunia. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version