EKBIS
Perry Warjiyo Mundur, Rupiah Dibuka Melemah
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali membuka pekan di zona merah, Senin (27/7/2026). Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah kombinasi sentimen global yang masih kuat dan kabar pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI).
Mengacu pada data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.960 per dolar AS, melemah 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan terakhir pekan lalu di Rp17.935 per dolar AS.
Data Bloomberg juga menunjukkan rupiah bergerak di kisaran Rp17.972 per dolar AS, turun sekitar 0,05 persen, sedangkan Yahoo Finance mencatat posisi rupiah di level Rp17.968 per dolar AS.
Pelemahan ini membuat rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, yang selama beberapa waktu menjadi perhatian pelaku pasar.
Menariknya, pelemahan rupiah terjadi ketika indeks dolar Amerika Serikat (DXY) justru melemah 0,3 persen ke level 101,164. Pada saat yang sama, mayoritas mata uang Asia mampu menguat terhadap dolar AS.
Baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia setelah melonjak 0,5 persen, disusul peso Filipina dan yen Jepang yang sama-sama menguat 0,21 persen. Ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yuan China juga bergerak di zona hijau.
Sebaliknya, rupiah masih berada dalam tekanan bersama won Korea Selatan, yang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia.
Pergerakan pasar pada awal pekan ini juga bertepatan dengan kabar mengejutkan dari Bank Indonesia. Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur BI, dan posisinya untuk sementara dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sesuai mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia.
Meski demikian, analis menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak dalam rentang Rp17.880 hingga Rp18.250 per dolar AS sepanjang pekan ini.
Menurut Ibrahim, tekanan datang dari kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan tarif impor baru sebesar 10–12,5 persen terhadap sekitar 60 negara mitra dagang, termasuk Indonesia.
Selain itu, eskalasi konflik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia, sementara data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
“Eskalasi yang diperbarui membantu menaikkan harga minyak, sementara data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif,” kata Ibrahim Assuaibi.
Dengan kombinasi tekanan global tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan bersikap hati-hati dalam beberapa hari ke depan sambil mencermati perkembangan kebijakan Bank Indonesia pasca-pengunduran diri Perry Warjiyo serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat. (Firman/Mun)
-
NASIONAL28/10/2026 18:05 WIBPolisi Larang Wartawan Liput Demo di Bundaran HI
-
NUSANTARA29/10/2026 07:30 WIBPaman Mau Perkosa Keponakan, Lansia Penolong Malah Dihajar Hingga Tewas
-
POLITIK28/10/2026 16:00 WIBSahroni Sindir Ijazah Palsu? PSI: Sindirannya Tak Tepat
-
DUNIA28/10/2026 18:00 WIBInggris Bersiap Hadapi Ancaman Perang
-
NASIONAL28/10/2026 20:00 WIBLechumanan Sebut Jokowi Terganggu Pemberitaan Ijazah Palsu
-
POLITIK28/10/2026 14:00 WIBSM Kartosoewirjo: Dari Sekretaris Sumpah Pemuda Jadi Imam Besar DI/TII
-
DUNIA28/10/2026 15:00 WIBNetanyahu Klaim Menang Telak dalam Pemilu Israel
-
NASIONAL29/10/2026 06:00 WIBDasco Minta Kritik Kabut Asap Dijawab dengan Penegakan Hukum