NASIONAL
IPW: Kematian Penjaga Rumah Febrie Tak Wajar
AKTUALITAS.ID – Kematian misterius Sutrimo, penjaga rumah kosong milik mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, terus bergulir panas. Indonesia Police Watch (IPW) secara tegas menilai kematian Sutrimo sarat kejanggalan dan mengarah pada dugaan kuat tindak pidana pembunuhan berencana.
Langkah Polda Metro Jaya yang menaikkan status perkara dari penyelidikan ke penyidikan menjadi bukti sahih bahwa aparat kepolisian telah mengendus adanya peristiwa pidana di balik tewasnya pria tersebut.
“Kematiannya itu adalah kematian tidak wajar. Sudah ditetapkan adanya satu proses penyidikan. Jika masuk tahap penyidikan, berarti jelas ada peristiwa pidana yang sedang diusut,” tegas Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso, Selasa (25/8/2026).
Sugeng menegaskan, polisi kini tengah mendalami apakah Sutrimo merupakan korban pembunuhan biasa atau pembunuhan berencana. Kunci utama pengungkapan misteri ini berada pada hasil uji laboratorium forensik dan ekshumasi (pembongkaran makam) yang diperkirakan keluar dalam sepekan ke depan.
“Apakah ditemukan jenis racun tertentu yang menyebabkan kematian, itu baru akan ketahuan dari hasil pemeriksaan forensik. Jika terbukti dibunuh, Sutrimo ini jelas salah satu saksi kunci,” ujar Sugeng.
Posisi Sutrimo dinilai sangat strategis. Sebagai penjaga rumah, ia disinyalir memegang informasi krusial mengenai keberadaan dan lalu lintas barang-barang di kediaman Febrie Adriansyah, baik yang berada di Kebayoran Baru maupun Sentul.
Kejanggalan kematian Sutrimo makin mencolok jika merunut rentetan peristiwa sebelum ia menghembuskan napas terakhir. Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, membeberkan bahwa kliennya mengalami kepanikan luar biasa pasca-penggeledahan oleh Tim Gabungan Kortas Tipidkor Polri dan Polda Metro Jaya pada 8–9 Juli 2026 di rumah kosong Kebayoran Baru.
Kepanikan itu membuat Sutrimo kabur mendadak ke kampung halamannya di Banyumas, Jawa Tengah. Kondisinya sangat tragis: ia melarikan diri hanya mengenakan hoodie, celana pendek, dan sandal jepit tanpa membawa uang maupun tas.
“Dia sampaikan ke keluarga kalau sangat ketakutan, takut terbawa-bawa proses hukum,” ungkap Aan.
Namun, pelarian itu tak berlangsung lama. Sutrimo mendadak dihubungi oleh “atasannya” dan diminta segera kembali ke Jakarta. Meski sempat mengaku tak punya uang, sang bos menjamin seluruh ongkos, memesankan tiket, bahkan mengirim dua orang misterius dari Cilacap untuk menjemput dan mengawalnya di Stasiun Purwokerto.
Hanya berselang beberapa hari sejak dibawa kembali ke Jakarta, Sutrimo ditemukan tak sadarkan diri di depan Klinik Mordent, Kebayoran Baru, pada Kamis (23/7/2026), sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Meskipun tim dokter forensik yang dipimpin Brigjen Sumy Hastry Purwanti mencatat Sutrimo memiliki riwayat medis diabetes dan penyakit jantung, hal tersebut belum bisa dijadikan kesimpulan akhir penyebab kematian. Puluhan sampel organ hasil ekshumasi masih terus diteliti secara intensif di laboratorium.
Atas dasar itulah, IPW mendesak Polda Metro Jaya untuk bekerja ekstra keras, profesional, serta menerapkan metode Scientific Crime Investigation (SCI) secara transparan.
“Kami mendorong Polda Metro Jaya menyelidiki kasus kematian Sutrimo ini dengan sungguh-sungguh. Setelah hasil autopsi keluar, sampaikan secara terbuka kepada publik yang saat ini sedang menunggu-nunggu kepastian hukum,” pungkas Sugeng. (Andrey/Mun)
-
NASIONAL25/08/2026 13:00 WIBBank Mandiri Kena Serbu Netizen usai Bekukan Rekening Rp80,9 Juta
-
NASIONAL25/08/2026 11:00 WIBPrabowo Perintahkan Usut 4 Korporasi di Kalbar
-
DUNIA25/08/2026 12:00 WIBNetanyahu Diduga Sengaja Panaskan Gaza Demi Tunda Pemilu
-
NUSANTARA25/08/2026 19:00 WIBGempa Flores 1992 Lebih Mematikan dari 2026
-
NASIONAL25/08/2026 17:00 WIBMK Didesak Tegaskan Batas Masa Jabatan Kapolri
-
NASIONAL25/08/2026 14:00 WIBBNPB: NTT Diguncang 6.409 Gempa Susulan
-
RIAU25/08/2026 15:30 WIBTitik Api Pelalawan Turun 50%
-
DUNIA25/08/2026 15:00 WIBInggris Buka Akses Teknologi Rudal ke Ukraina