Connect with us

NUSANTARA

Tragedi Ponpes di Wonogiri: Santri Meninggal Usai Dibanting dan Dicekik Teman Sekelas

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Seorang santri berinisial DRP (11) meninggal dunia diduga akibat tindak kekerasan di lingkungan pondok pesantren di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Kasus ini mencuat setelah orang tua korban yang pulang dari perantauan merasa curiga atas kematian anaknya dan meminta dilakukan ekshumasi makam untuk memastikan penyebab kematian.

Kasat Reskrim Polres Wonogiri Iptu Agung Sedewo mengatakan, dari hasil penyelidikan dan penyidikan, polisi telah menetapkan seorang anak berinisial R (11) sebagai anak yang berkonflik dengan hukum (ABH).

“Dari serangkaian penyelidikan dan penyidikan kami, saat ini kami menetapkan satu orang anak sebagai pelaku, dengan inisial R (11),” ujar Agung kepada awak media di Mapolres Wonogiri, Rabu (18/2/2026).

Pelaku dijerat dengan Pasal 80 ayat (3) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak atau Pasal 468 ayat (2) KUHP juncto UU RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Mengingat usia pelaku masih di bawah 12 tahun, ancaman hukuman berupa pembinaan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan pemeriksaan sementara, peristiwa bermula dari candaan antara korban dan pelaku yang berkembang menjadi saling ejek. Insiden tersebut terjadi di dalam kelas pada Sabtu (14/2/2026), saat tidak ada guru yang mengawasi.

Perkelahian itu disaksikan tiga teman sekelas korban. Dalam peristiwa tersebut, korban diduga mengalami kekerasan fisik hingga menyebabkan luka fatal.

“Korban dibanting dan dicekik. Awalnya saling ejek karena dijodoh-jodohkan dengan temannya, lalu tidak terima,” jelas Agung.

Setelah kejadian, korban mengeluhkan pusing dan nyeri di bagian belakang kepala. Ia juga dilaporkan sempat beberapa kali muntah di area tempat wudu dan kamar mandi.

Karena kondisi korban memburuk, pihak pengurus pondok pesantren membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat. Namun, korban meninggal dunia dalam perjalanan.

“Dibawa ke faskes, meninggal di perjalanan. Sesampainya di rumah sakit sudah tidak ada,” katanya.

Korban sempat dimakamkan pada Sabtu malam atas kesepakatan keluarga. Namun keesokan harinya, ayah korban yang baru tiba dari perantauan mendapat informasi bahwa sebelum dimakamkan, jenazah mengeluarkan darah dari hidung dan mulut serta terdapat bercak darah pada peti jenazah.

Kasi Humas Polres Wonogiri AKP Anom Prabowo mengatakan, atas dasar laporan keluarga, polisi melakukan ekshumasi makam di Desa Conto, Kecamatan Bulukerto pada Selasa (17/2/2026).

Proses ekshumasi melibatkan Tim Inafis Polda Jateng, Tim Inafis Polres Wonogiri, serta tim dokter forensik dari RS Bhayangkara Polda Jateng yang dipimpin dr. Dian Novitasari. Unsur Forkopimcam Bulukerto, pemerintah desa, dan tenaga kesehatan setempat juga turut hadir.

Polisi memastikan penyelidikan dilakukan secara profesional dan transparan berdasarkan alat bukti yang sah.

“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak berspekulasi. Percayakan prosesnya kepada kepolisian. Perkembangan hasil penyelidikan akan kami sampaikan secara resmi,” ujar Anom.

Kasus ini menambah perhatian terhadap pengawasan dan keamanan di lingkungan pendidikan, khususnya lembaga berbasis asrama. (Kusuma/Mun)

TRENDING