Connect with us

OASE

Al-Qur’an Sebut Kikir Jalan Menuju Kerugian

Aktualitas.id -

Al Quran, foto: Meta AI

AKTUALITAS.ID – Banyak orang bekerja siang malam mengejar kekayaan. Tidak sedikit yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan hubungan keluarga demi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Namun Islam memberikan peringatan keras: bukan banyaknya harta yang menjadi masalah, melainkan ketika harta membuat seseorang menjadi kikir, bakhil, dan enggan berbagi.

Al-Qur’an menggambarkan sifat pelit sebagai penyakit hati yang berbahaya. Setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan agar enggan bersedekah, padahal Allah menjanjikan ampunan dan karunia bagi mereka yang gemar berinfak.

Dalam Surat Ali Imran ayat 180, Allah memperingatkan bahwa orang yang mengira kekikirannya akan menyelamatkan hartanya justru sedang menyiapkan keburukan bagi dirinya sendiri. Harta yang dikikirkan itu kelak akan menjadi beban dan penyesalan pada Hari Kiamat.

Lebih keras lagi, Surat At-Taubah ayat 34-35 menyebut orang-orang yang menumpuk emas dan perak tanpa menunaikan hak-haknya akan menghadapi azab yang pedih. Harta yang selama ini dijaga mati-matian tidak lagi menjadi pelindung, tetapi berubah menjadi saksi yang memberatkan mereka.

Islam tidak melarang menjadi kaya. Banyak sahabat Nabi yang merupakan pedagang sukses dan hartawan. Namun kekayaan dalam Islam harus menghadirkan manfaat, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, tetangga, fakir miskin, anak yatim, dan masyarakat luas.

Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa sifat bakhil dapat menyempitkan rezeki dan menghilangkan keberkahan hidup. Orang yang terlalu mencintai hartanya sering kali hidup dalam ketakutan: takut berkurang, takut rugi, takut berbagi, dan akhirnya tidak pernah merasakan ketenangan.

Ironisnya, harta yang begitu dijaga akhirnya akan ditinggalkan. Ketika kematian datang, semua rekening, aset, tanah, kendaraan, dan tabungan tidak ikut masuk ke liang kubur. Yang tersisa hanyalah amal yang pernah dilakukan selama hidup.

Karena itu, Al-Qur’an mengajarkan jalan tengah. Jangan boros, tetapi jangan pula kikir. Jangan menghambur-hamburkan harta, tetapi jangan sampai menahan hak orang lain yang Allah titipkan melalui rezeki yang kita miliki.

Pertanyaannya bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak manfaat yang kita sebarkan. Sebab pada akhirnya, bukan harta yang menyelamatkan manusia, tetapi iman, amal saleh, dan kepedulian kepada sesama.

Jika hari ini kita masih mudah menolak berbagi, menunda zakat, enggan membantu keluarga yang kesulitan, atau berat mengeluarkan sedekah, mungkin sudah saatnya bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang menguasai harta, atau justru sedang dikuasai oleh harta? (Mun)

TRENDING

Exit mobile version