Connect with us

POLITIK

Pengamat Minta Publik Tak Terlalu Reaktif Survei Dedi Salip Prabowo

Aktualitas.id -

Pengamat Komunikasi Politik dari Swarna Dwipa Institute (SDI), Frans Immanuel Saragih,

AKTUALITAS.ID – Hasil survei yang dirilis SMRC dan Indikator Politik Indonesia dalam beberapa hari terakhir memicu perbincangan luas di ruang publik. Selain mencatat penurunan tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo Subianto, survei tersebut juga menampilkan elektabilitas Dedi Mulyadi yang disebut berada di atas Prabowo dalam simulasi tertentu.

Namun, Pengamat Komunikasi Politik dari Swarna Dwipa Institute (SDI), Frans Immanuel Saragih, mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan dari hasil survei tersebut.

“Hasil survei sebaiknya dipandang sebagai informasi. Tidak perlu disikapi secara berlebihan atau terlalu reaktif,” kata Frans saat dihubungi, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, setiap lembaga survei memiliki metodologi dan temuan masing-masing yang sah untuk dipublikasikan. Karena itu, publik sebaiknya membandingkan hasil dari berbagai lembaga survei sebelum menyimpulkan arah dinamika politik nasional.

Frans menilai masih banyak lembaga survei kredibel yang kemungkinan akan merilis hasil serupa maupun berbeda dalam beberapa waktu ke depan.

“Kita tunggu saja hasil dari lembaga survei lainnya. Nanti publik bisa menilai mana yang paling mendekati kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Menanggapi munculnya nama Dedi Mulyadi yang disebut mengungguli Prabowo, Frans mengingatkan bahwa keduanya berasal dari partai politik yang sama. Prabowo merupakan Ketua Umum Partai Gerindra, sedangkan Dedi Mulyadi juga berkarier di bawah naungan partai tersebut.

Karena itu, ia menilai peluang keduanya saling berhadapan sebagai rival dalam Pilpres 2029 belum dapat disimpulkan saat ini.

“Agak sulit melihat dua tokoh ini akan berhadapan karena berasal dari rumah politik yang sama. Namun jika berbicara mengenai pasangan calon pada 2029, tentu semua kemungkinan masih terbuka. Tetapi saat ini masih terlalu dini,” jelasnya.

Frans memperkirakan peta persaingan menuju Pilpres 2029 baru akan terlihat lebih jelas memasuki akhir 2027 hingga awal 2028 ketika partai-partai mulai menentukan arah koalisi dan figur yang akan diusung.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar perhatian publik tidak hanya tersedot pada dinamika survei politik. Menurutnya, situasi geopolitik global yang masih penuh ketidakpastian justru membutuhkan perhatian lebih besar karena berpotensi berdampak terhadap kondisi ekonomi dan stabilitas nasional.

“Di tengah situasi geopolitik global yang sedang bergejolak, lebih penting bagi kita untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi Indonesia dibanding terlalu larut dalam perdebatan hasil survei,” pungkasnya. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version