RAGAM
Masyarakat Didorong Kembali ke Pola Makan Tradisional
AKTUALITAS.ID – Guna menjaga kesehatan sistem pencernaan di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, Ahli gizi Herbalife, Dr. Vipada Sae-Lao, mendorong masyarakat Asia untuk kembali ke pola makan tradisional yang lebih seimbang.
Menurutnya, langkah kecil dan konsisten dalam memilih makanan alami dapat menjadi kunci menuju kesehatan jangka panjang.
Dr. Sae-Lao yang menjabat sebagai Nutrition Education and Training Lead – Asia Pacific Herbalife menjelaskan bahwa banyak orang kini berusaha memperbaiki gaya hidup melalui perubahan ekstrem, padahal hasil terbaik sering berawal dari kebiasaan sederhana yang berfokus pada pencernaan.
“Kesehatan yang lebih baik sering dimulai dari perubahan kecil yang praktis dan berkelanjutan. Semua berawal dari pusat tubuh kita, yaitu saluran pencernaan,” ujarnya, dalam keterangannya pada Kamis (16/10/2025).
Dr. Sae-Lao menilai pola makan tradisional Asia yang kaya sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, makanan fermentasi, dan rempah alami mampu mendukung kesehatan usus secara ilmiah.
Makanan seperti kimchi, miso, yogurt, dan kombucha disebut bermanfaat untuk imunitas, sementara rempah seperti jahe, kunyit, dan bawang putih membantu menjaga keseimbangan pencernaan.
Ia juga menyoroti pentingnya kebiasaan makan dengan penuh kesadaran, seperti mengunyah perlahan, menikmati makanan tanpa distraksi, serta menjaga hidrasi dan kualitas tidur. “Bukan perubahan drastis yang dibutuhkan, tetapi langkah kecil yang sadar dan konsisten,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyoroti perubahan pola makan masyarakat Asia yang mulai bergeser dari tradisi lokal yang kaya serat dan gizi menuju makanan cepat saji dan olahan. Pergeseran ini, kata dia, telah meningkatkan berbagai keluhan pencernaan seperti perut kembung, asam lambung, dan gangguan iritasi usus.
Mengutip Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Dr. Sae-Lao menyebut hanya 3,3 persen masyarakat Indonesia yang mengonsumsi buah dan sayur sesuai anjuran, sementara 96,7 persen lainnya masih di bawah standar harian yang direkomendasikan.
Ia menegaskan pentingnya memahami peran saluran pencernaan yang sering disebut sebagai “otak kedua”, karena sistem ini berpengaruh terhadap imun, energi, metabolisme, hingga kesehatan mental. Ketidakseimbangan nutrisi, kata dia, dapat mengganggu mikrobioma usus dan memicu peradangan yang berujung pada gangguan pencernaan kronis.
Dr. Sae-Lao juga mengingatkan agar masyarakat mendengarkan kebutuhan tubuh dan kembali pada kebijaksanaan pangan tradisional.
“Saluran pencernaan Anda dapat menjadi penunjuk jalan, cukup dengarkan baik-baik,” ujarnya.
(Purnomo/goeh)
-
NUSANTARA03/10/2026 22:00 WIBAnak Durhaka! Ibu Kandung Tewas Dihabisi Pakai Kayu di Halaman Rumah
-
OASE04/10/2026 05:00 WIBJin Itu Ada, Tapi Jangan Asal Percaya Hantu
-
DUNIA04/10/2026 00:00 WIBKorsel Tingkatkan Status Siaga usai Rudal Balistik Korut Diluncurkan
-
RAGAM04/10/2026 15:35 WIBAzka Corbuzier Debut Akting Lewat Home, Almost, Tayang Perdana di New York
-
NASIONAL03/10/2026 20:00 WIBBMKG Bongkar Ancaman El Nino hingga Awal 2027
-
DUNIA03/10/2026 21:00 WIBHacker China Nyamar Jadi Eks Pejabat Gedung Putih Demi Curi Data AI
-
EKBIS03/10/2026 19:00 WIBHarga Tiket Pesawat Nataru 2026 Fix Bakal Didiskon
-
EKBIS04/10/2026 07:00 WIBZulhas: Gaji Manajer Kopdes Rp8,3 Juta Bersumber dari APBN