Connect with us

RAGAM

Hantavirus Bisa Bikin Gagal Napas Akut

Aktualitas.id -

Ilustrais hantavirus, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Ancaman hantavirus kini kembali mengemuka setelah sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius dilaporkan terdampak penyakit tersebut dan tiga di antaranya meninggal dunia. Mereka disebut terinfeksi virus Andes, salah satu jenis hantavirus yang dikenal berbahaya karena dapat menyerang paru-paru dan memicu gagal napas akut.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan, hantavirus menyebar melalui hewan pengerat, terutama tikus liar yang banyak hidup di area permukiman, pertanian, hingga hutan. Jenis tikus yang dapat menjadi sumber penularan antara lain tikus rumah, tikus got, tikus ladang, dan mencit liar.

Sementara virus Andes diketahui ditemukan pada tikus liar Oligoryzomys longicaudatus, yang umumnya hidup di Patagonia, Argentina, dan Chile.

“Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi,” kata Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, dikutip Selasa (12/5/2026).

Hantavirus dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi paru berat yang berpotensi menimbulkan gagal napas akut. Pada tahap awal, gejalanya sering kali menyerupai influenza biasa, mulai dari demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, lemas, hingga gangguan pencernaan.

Masalahnya, gejala yang muncul sangat tidak spesifik. Akibatnya, diagnosis dini kerap terlambat dilakukan. Pada kasus berat, penderita dapat mengalami gangguan pernapasan serius dan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.

Tingkat kematian akibat HPS juga tergolong tinggi, mencapai 20–35 persen. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan paparan tikus dan segera mewaspadai gejala yang muncul.

Penelitian mengenai hantavirus di Indonesia sendiri sudah dilakukan sejak 1991 oleh Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan, khususnya di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Hingga kini, BRIN menyebut belum ada laporan khusus mengenai virus Andes di Indonesia.

Hasil riset vektor dan reservoir penyakit pada 2015–2018 juga tidak menemukan virus yang sama pada kelompok tikus domestik, peridomestik, maupun silvatik di Indonesia.

Meski begitu, kewaspadaan tetap diperlukan. Indonesia memiliki keanekaragaman rodensia yang tinggi, jumlah penduduk besar, dan lingkungan yang mendukung populasi tikus berkembang dengan cepat.

Dari sisi data, Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus hantavirus di Indonesia sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 2026. Dari jumlah tersebut, tiga orang meninggal dunia.

Dalam periode yang sama, terdapat 251 kasus suspek, dengan rincian 225 negatif dan tiga tidak dapat diperiksa. Kasus terbanyak terjadi pada 2025 dengan 17 kasus, sedangkan hingga minggu ke-16 tahun ini sudah ditemukan lima kasus.

Sebaran kasus hantavirus di Indonesia tercatat di Jakarta (6), Yogyakarta (6), Jawa Barat (5), Jawa Timur (1), Banten (1), Sumatra Barat (1), NTT (1), Sulawesi Utara (1), Kalimantan Barat (1), dan Jawa Timur (1). (Firman/Mun)

TRENDING