Connect with us

DUNIA

Trump: Tak Perlu Operasi Militer Hadapi Kuba

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan klaim mengejutkan terkait ketegangan abadi antara AS dan Kuba. Secara penuh percaya diri, Trump memprediksi bahwa kedua negara akan segera mencapai kesepakatan bersejarah tanpa perlu meletuskan agresi militer.

“Saya jamin Kuba dan kami akan membuat kesepakatan. Saya tidak berpikir kami akan membutuhkan militer untuk itu,” tegas Trump kepada wartawan di Gedung Putih sebelum bertolak ke Tennessee, Sabtu (26/9/2026).

Manuver ini menjadi bagian dari agenda terbuka pemerintahan Trump yang secara agresif ingin menggulingkan dan mengubah wajah pemerintahan komunis Kuba. Saat ini, AS telah menjerat Havana dengan blokade minyak yang sangat melumpuhkan sejak awal tahun. Imbasnya, Kuba tengah dicekik krisis bahan bakar parah dan pemadaman listrik massal yang memperburuk infrastruktur negara tersebut.

BACA JUGA  AS Siapkan Operasi Militer di Kolombia

Di balik tawaran “kesepakatan damai” tersebut, Trump terus menggunakan retorika keras yang memicu kemarahan. Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB beberapa hari sebelumnya, Trump secara terang-terangan melabeli Kuba sebagai “negara yang benar-benar gagal” dan meramalkan bahwa kebebasan akan segera datang karena rezim saat ini pasti akan runtuh.

Sikap provokatif ini membuat seluruh delegasi Kuba yang hadir di ruang sidang PBB memutuskan walk out di tengah pidato Trump.

Menanggapi arogansi tersebut, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez langsung meluapkan amarahnya. Melalui platform X, Rodriguez menuding Presiden AS itu sedang menyebar kebohongan keji dan tidak menghargai kedaulatan negaranya.

“Pemerintah AS tidak mampu menerima kenyataan bahwa Kuba berhak menjadi negara yang berdaulat penuh dan merdeka,” kecam Bruno Rodriguez.

BACA JUGA  Banyak Korban Wabah Corona, Kuba Kirim Brigade Dokter & Perawat ke Italia

Meski sesumbar soal kesepakatan dan perubahan mendasar, hingga kini Gedung Putih belum juga memberikan cetak biru atau rincian pasti mengenai perubahan seperti apa yang AS paksakan untuk terjadi di Kuba. (Mun)

TRENDING