DUNIA
AS Siapkan Operasi Militer di Kolombia
AKTUALITAS.ID – Beralih dari fokus kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat kini secara mengejutkan mengarahkan radar militer utamanya ke belahan bumi barat. Washington secara terbuka memberi sinyal akan menggelar operasi militer gabungan berskala besar dengan Kolombia untuk membumihanguskan jaringan terorisme dan kartel narkoba transnasional.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa pemerintah Kolombia telah memberikan lampu hijau bagi pengerahan kekuatan militer AS. Kelompok bersenjata seperti National Liberation Army (ELN) dan faksi sisa Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC) kini resmi masuk dalam daftar target sah gempuran militer.
“Organisasi teror yang telah ditetapkan, bersama pemerintah mitra, akan menjadi target yang sah bagi pemerintah Amerika Serikat,” tegas Hegseth saat menghadiri pertemuan Americas Counter-Cartel Coalition di Panama.
Langkah agresif ini menandai ekspansi kebijakan luar negeri AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Hegseth bahkan memperkenalkan konsep doktrin keamanan baru yang dijuluki “Donroe Doctrine”—permainan kata dari Doktrin Monroe abad ke-19—yang menegaskan dominasi mutlak Washington di kawasan Amerika dari ancaman eksternal dan kartel narkoterorisme.
Guna memuluskan rencana perang darat dan maritim ini, AS siap melempar dana bantuan keamanan sebesar US$1 miliar kepada pemerintah baru Kolombia di bawah Presiden Abelardo De La Espriella.
Kerja sama pertahanan ini diprediksi bakal melampaui skala Plan Colombia era 2000-an. Menteri Pertahanan Kolombia, Jorge Eduardo Mora, juga menyambut hangat kesepakatan ini dan menyebut ini saatnya kartel menghadapi kekuatan penuh gabungan belahan bumi barat.
Meski diklaim sebagai perang melawan narkoba dan teror, strategi militer AS di kawasan Amerika Latin terus menuai kecaman internasional. Tindakan AS yang dinilai sepihak—termasuk insiden penyerangan kapal-kapal yang menewaskan ratusan orang—memicu tuduhan kejahatan perang yang dapat diseret ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Menanggapi hal itu, Hegseth justru mengecam ICC dan mendesak negara-negara mitra untuk menarik diri dari lembaga tersebut.
Di sisi lain, manuver AS ini bertepatan dengan pergeseran politik sayap kanan di berbagai negara Amerika Latin, sekaligus langkah strategis Washington menekan pengaruh ekonomi China di titik-titik krusial seperti Terusan Panama. (Mun)
-
RIAU12/09/2026 17:30 WIBPolisi Bongkar Pondok Kayu Diduga Markas Transaksi Sabu
-
DUNIA12/09/2026 18:00 WIBPartai Republik Sendiri Syok! Janji Trump Bikin Bangkrut AS
-
RIAU12/09/2026 16:30 WIBTempat Hiburan Malam Pekanbaru Dirazia Polisi
-
EKBIS12/09/2026 20:00 WIBLuhut: 50 Juta Warga Miskin Masuk Data Bansos Digital
-
NUSANTARA12/09/2026 19:00 WIB193 Siswa Sakit, Ayam Bumbu Kuning MBG Toraja Positif Bakteri E. Coli
-
NASIONAL12/09/2026 22:00 WIBGus Kikin Diminta Berani Bersihkan Konflik Internal PBNU
-
DUNIA12/09/2026 21:00 WIBSaudi Tutup Pipa Minyak Usai Serangan Drone
-
NASIONAL13/09/2026 04:00 WIBNing Lia Dorong Polri Tetap Humanis dan Profesional

















