Connect with us

EKBIS

Rupiah Ambruk 51 Poin

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar Rupiah mengawali pekan ini dengan rapor merah. Badai ketidakpastian geopolitik global dan agresivitas kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) sukses membuat Rupiah kembali bertekuk lutut di hadapan Dolar AS pada Senin (28/9/2026) pagi.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar Rupiah dibuka terperosok ke level Rp17.954 per USD. Mata uang Garuda ini ambles 51 poin atau 0,28 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di angka Rp17.903 per USD.

Kondisi serupa tercatat di papan perdagangan Yahoo Finance, di mana Rupiah tersungkur ke posisi Rp17.912 per USD, melemah dari pembukaan akhir pekan lalu yang berada di Rp17.890 per USD.

BACA JUGA  Sentimen Global Tekan Rupiah di Pembukaan

Runtuhnya nilai tukar ini tidak dialami Indonesia sendirian. Hegemoni Dolar AS hari ini terpantau memukul mundur hampir seluruh mata uang utama Asia dan dunia. Won Korea Selatan anjlok 0,59 persen, Yen Jepang melemah 0,29 persen, hingga Euro dan Poundsterling yang kompak mencatatkan koreksi.

Merespons tren pelemahan yang mengkhawatirkan ini, Bank Indonesia (BI) langsung turun gunung. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa bank sentral akan mempertebal sabuk pengaman lewat intervensi ganda di pasar valuta asing.

“Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah akan terus diperkuat di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang cukup tinggi,” tegas Destry.

BI menyatakan siap mengoptimalkan seluruh amunisi moneternya, mulai dari intervensi transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, hingga transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF).

BACA JUGA  Di Tengah Kabar Tak Pasti, Rupiah Justru Makin Perkasa

Tidak sekadar intervensi pasar, BI juga mengeluarkan jurus pamungkas dengan mengobral insentif transaksi lindung nilai (hedging). Diskon premi ini diperluas tidak hanya untuk investasi portofolio, tetapi juga mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan Foreign Direct Investment (FDI).

Untuk menarik arus modal asing, BI memangkas premi swap beli lindung nilai secara masif: diskon 15% untuk tenor tiga bulan, 20% untuk enam bulan, dan melesat hingga 25% untuk tenor 12 bulan, jauh lebih tinggi dari aturan sebelumnya yang dipatok rata 12,5%. Langkah agresif ini diharapkan mampu mengguyur pasar domestik dengan pasokan valas segar demi menyelamatkan nyawa Rupiah. (Firman/Mun)

TRENDING