Connect with us

NUSANTARA

Napas Sesak, Mata Perih! Palembang Kembali Diteror Kabut Asap

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Kota Palembang kembali berada dalam kepungan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Rabu (21/10/2026). Sejak pagi hari, langit terlihat keabu-abuan, bau asap menyengat tercium hingga ke kawasan permukiman, sementara jarak pandang di sejumlah titik mengalami penurunan.

Kondisi tersebut memicu keresahan warga yang menilai penanganan karhutla belum menunjukkan hasil maksimal. Asap yang terus berulang setiap tahun dinilai tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga mengancam kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Sejak pukul 06.00 WIB, kabut asap dilaporkan sudah menyelimuti berbagai wilayah Kota Palembang. Aktivitas warga yang berangkat bekerja dan bersekolah pun terganggu akibat visibilitas yang terbatas.

Ridwan, seorang petugas keamanan di UIN Raden Fatah Palembang, mengaku merasakan langsung dampak buruk kabut asap saat bertugas di luar ruangan.

BACA JUGA  Kompak, Mentan dan Wamentan Pantau Operasi Pasar Murah di Palembang

“Kabut asap pagi ini masih tebal nian, Mang. Dari jam 6 tadi sudah pekat. Mata perih, sesak napas kalau tidak pakai masker. Kami yang jaga di luar ini yang paling keraso dampaknyo,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Erwin, warga Palembang yang harus beraktivitas menggunakan sepeda motor. Menurutnya, kondisi jalan menjadi lebih berbahaya karena jarak pandang berkurang akibat kabut asap yang pekat.

“Jarak pandang terbatas, Mang. Bawa motor jadi was-was, apalagi di jalan besar asapnya tebal. Takut kecelakaan karena tidak kelihatan kendaraan depan,” katanya.

Dampak kabut asap juga dirasakan dunia pendidikan. Maya, seorang pegawai PPPK sekaligus orang tua siswa, mengatakan anaknya kembali menjalani pembelajaran jarak jauh setelah adanya imbauan dari pihak sekolah.

BACA JUGA  Disetujui Menkes, Palembang dan Prabumulih Akan Lakukan PSBB

“Jadi repot juga kami sebagai orang tua, sekolahnya selalu daring,” ujarnya.

Masyarakat menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan melalui pemadaman api di lokasi kebakaran. Warga berharap pemerintah memperkuat langkah pencegahan, meningkatkan pengawasan wilayah rawan kebakaran, serta menindak tegas pihak-pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.

Selain itu, warga meminta informasi mengenai kondisi kualitas udara disampaikan secara terbuka dan rutin agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi untuk melindungi kesehatan keluarga mereka.

Kekhawatiran terbesar warga adalah siklus tahunan kabut asap yang seolah terus berulang tanpa solusi permanen. Jika kebakaran hutan dan lahan tidak ditangani hingga ke akar persoalannya, masyarakat khawatir Palembang akan terus menjadi korban setiap musim kemarau.

BACA JUGA  Dodi Reza Salurkan Bantuan APD ke RS Muhammadiyah Palembang

Di tengah langit yang kembali diselimuti asap, ribuan warga Palembang kini berharap langkah konkret segera dilakukan agar ancaman gangguan kesehatan, terganggunya aktivitas pendidikan, hingga risiko kecelakaan akibat minimnya jarak pandang tidak semakin meluas. Kabut asap yang terus bertahan telah menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla masih menjadi pekerjaan besar yang belum sepenuhnya terselesaikan di Sumatera Selatan. (Kusuma/Mun)

TRENDING