Connect with us

EKBIS

Eddy Dorong Sinergi Danantara-Jepang untuk Infrastruktur Listrik

Aktualitas.id -

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Ambisi Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2026–2029 terancam pincang jika krisis jaringan transmisi listrik tidak segera diselesaikan. Peringatan keras ini ditiupkan langsung oleh Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, di hadapan para investor dan pengambil kebijakan dalam ajang Indonesia-Japan Track 1.5 Dialogue on Transmission Cooperation di Tokyo.

Eddy menegaskan, potensi energi surya Indonesia yang menembus 3.300 gigawatt (GW) bakal berujung sia-sia tanpa ketersediaan infrastruktur transmisi yang memadai.

“Potensi energi terbarukan kita tersebar di berbagai wilayah, sementara pusat permintaan listrik dan industri terkonsentrasi di sejumlah kawasan. Tanpa jaringan transmisi yang kuat, potensi energi bersih tersebut tidak akan optimal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Eddy tegas, Jumat (30/10/2026).

BACA JUGA  Eddy Soeparno: Pembangunan Ponpes dengan APBN Perlu Diaudit

Isu utama yang menjadi sorotan tajam Eddy adalah menganga lebarnya jurang investasi. Sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, Indonesia membutuhkan dana fantastis mencapai US$ 190 miliar (sekitar Rp 3.000 triliun) untuk sektor ketenagalistrikan, dengan US$ 27 miliar di antaranya khusus dialokasikan bagi pembangunan super grid sepanjang 48.000 kilometer sirkuit.

Namun realitas di lapangan sangat timpang. Kebutuhan investasi transmisi rata-rata mencapai US$ 2,4 miliar per tahun, tetapi realisasinya sejak 2019 mandek di kisaran US$ 1,4 miliar per tahun. Bahkan pada 2025, pembangunan jaringan transmisi baru mampu menyentuh seperempat dari target.

“Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan modal, tetapi bagaimana membuat investasi transmisi layak secara komersial. Investor membutuhkan kepastian pendapatan, model bisnis yang jelas, dan regulasi yang memberikan kepastian hukum,” sentil Eddy menohok.

BACA JUGA  Sekjen PAN Benarkan Haji Lulung Kembali ke PPP

Guna memecah kebuntuan tersebut, Eddy merumuskan sejumlah langkah radikal. Mulai dari penerapan mekanisme Joint Transmission Network Utilisation (PBJT), pembentukan entitas khusus transmisi di tubuh PLN, hingga pemangkasan aturan lahan dan perizinan yang kerap membelenggu proyek.

Langkah ini dirancang untuk membuka pintu lebar-lebar bagi konsorsium raksasa, mulai dari Danantara, investor institusional, hingga raksasa energi Jepang.

Di Tokyo, Eddy secara khusus membidik raksasa teknologi Jepang untuk memboyong teknologi High-Voltage Direct Current (HVDC) guna mengeksekusi proyek interkoneksi Sumatra-Jawa berkapasitas 500 kV. Ia mendorong sinergi pembiayaan kuat antara Japan Bank for International Cooperation (JBIC), JICA, Danantara, dan sektor swasta.

“Indonesia dan Jepang memiliki fondasi kerja sama energi yang kuat. Kita perlu memperdalam kemitraan ini agar dukungan teknologi dan pembiayaan dapat mempercepat pembangunan transmisi, memperkuat ketahanan energi, dan meningkatkan daya saing industri Indonesia,” tegasnya. (Mun)

BACA JUGA  Ekonomi Indonesia triwulan II anjlok 5,32 %, Sekjen PAN: Emak - emak Tidak Pegang Duit

TRENDING