Connect with us

NASIONAL

Eddy Soeparno Ajak Mahasiswa Terlibat dalam Solusi Krisis Iklim

Aktualitas.id -

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, melontarkan peringatan tegas terkait nasib lingkungan dan ekonomi Indonesia. Di hadapan mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Jumat (23/10/2026), Eddy menegaskan bahwa transisi menuju energi bersih bukan lagi sekadar wacana atau opsi cadangan, melainkan harga mati yang harus segera dieksekusi.

Kondisi kelistrikan Indonesia saat ini masih didominasi energi kotor. Eddy membongkar fakta bahwa 65 persen pasokan listrik nasional masih disokong oleh energi fosil, terutama batu bara. Meski menjaga keandalan listrik, emisi gas rumah kaca yang disemburkan menjadi bom waktu. Kenaikan suhu, cuaca ekstrem, hingga ancaman gagal panen yang bisa melambungkan harga pangan kini membayangi masyarakat.

BACA JUGA  Waka MPR: Pertemuan Prabowo-Putin Selamatkan Indonesia dari Krisis Energi

“Transisi energi itu merupakan keharusan dan bukan merupakan pilihan,” tegas Eddy.

Lebih jauh, Doktor Ilmu Politik UI ini berani mengambil sikap tak populer. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh membebek pada dalih pertumbuhan ekonomi semata jika ujung-ujungnya menghancurkan alam. Ia bahkan siap mendorong penghentian program industri yang terbukti membawa dampak negatif bagi lingkungan.

“Pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan harus berjalan bersamaan. Kalau perlu, kita harus mengorbankan berbagai program perekonomian, industri, dan lain-lain kalau memang itu membawa dampak yang sangat negatif terhadap lingkungan,” ancamnya.

Sebagai solusi, Eddy menagih optimalisasi energi surya, panas bumi, angin, dan bioenergi. Hal ini diyakini tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga memicu investasi dan menyedot tenaga kerja baru.

BACA JUGA  MPR Goes to Campus ke-40, Eddy Dorong 2026 Jadi Tahun Mitigasi Krisis Iklim

Untuk memuluskan langkah revolusioner ini, Eddy berjanji akan mengawal ketat pengesahan Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan (RUU EBET) serta RUU Pengendalian Perubahan Iklim (RUU PPI) yang kini mengantre di Prolegnas DPR. Kerangka hukum ini krusial untuk melindungi masyarakat kelas bawah yang paling rentan digilas krisis iklim.

Namun, Eddy sadar pemerintah dan legislatif tidak bisa bekerja sendirian. Ia menantang kalangan akademisi dan mahasiswa untuk turun gunung merumuskan solusi konkret. “Permasalahan transisi energi tidak bisa diselesaikan hanya seorang diri. Harus diselesaikan secara kolaboratif bersama-sama semua elemen masyarakat,” pungkasnya. (Mun)

TRENDING