Berita
Polisi Myanmar Tangkapin Puluhan Pedemo Anti-Kudeta
Polisi Myanmar menangkap puluhan pedemo anti kudeta militer yang menggelar aksi protes di ibu kota Naypyitaw dan Mandalay pada Selasa (9/2). Setidaknya 27 orang pedemo dikabarkan ditangkap oleh polisi. Seorang saksi mata mengatakan jika jurnalis Suara Demokratik Burma (DVB) turun ditahan saat sedang meliput aksi protes. Polisi juga memukuli massa saat melakukan penangkapan. Sebelum menangkap […]
Polisi Myanmar menangkap puluhan pedemo anti kudeta militer yang menggelar aksi protes di ibu kota Naypyitaw dan Mandalay pada Selasa (9/2). Setidaknya 27 orang pedemo dikabarkan ditangkap oleh polisi.
Seorang saksi mata mengatakan jika jurnalis Suara Demokratik Burma (DVB) turun ditahan saat sedang meliput aksi protes. Polisi juga memukuli massa saat melakukan penangkapan.
Sebelum menangkap pedemo, polisi di ibu kota Naypyitaw kembali menembakkan meriam air (water cannon) untuk membubarkan massa. Polisi di kota Bago juga menembakkan meriam air untuk menghadapi pedemo.
“Kudeta selalu muncul di pikiran kami, setiap kali kami makan, bekerja, bahkan saat istirahat. Kami sangat kecewa dan sedih setiap kali kami memikirkan mengapa hal ini menimpa kami lagi,” ujar seorang warga Yangon, Khin Min Soe yang ikut dalam aksi protes kepada Reuters.
Aktivis yang turun ke jalan bersama sejumlah lapisan masyarakat kembali menyerukan pembebasan tahanan politik dan menghapus konstitusi yang memberikan hak veto kepada tentara di parlemen.
“Kami akan terus berjuang menyerukan pembebasan tahanan politik dan mengakhiri kediktatoran,” kata aktivis pemuda Maung Saungkha dalam sebuah pernyataan.
Aksi protes menentang kudeta militer telah berlangsung di sejumlah kota di Myanmar selama hampir empat hari terakhir. Aksi protes kian meluas kendati Angkatan Bersenjata Myanmar (Tatmadaw) kini menerapkan jam malam dan melarang unjuk rasa untuk meredam protes warga.
Junta militer Myanmar melarang kegiatan keramaian yang melibatkan lima orang atau lebih. Mereka juga menerapkan jam malam mulai pukul 20.00 hingga 04.00.
Jam malam itu diterapkan di dua kota terbesar di Myanmar, Yangon dan Mandalay. Ribuan penduduk di kedua kota itu menggelar aksi unjuk rasa menentang kudeta sejak akhir pekan lalu.
Tatmadaw menyampaikan pernyataan terkait aksi unjuk rasa melalui Kementerian Informasi dan disiarkan melalui stasiun televisi MRTV.
“Demokrasi akan hancur jika tidak ada disiplin. Kami akan mengambil langkah hukum untuk mencegah kegiatan yang mengganggu kestabilan negara, keselamatan penduduk dan undang-undang,” demikian isi pernyataan itu.
Militer Myanmar menganggap pemilu yang dimenangkan oleh Aung San Suu Kyi dan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) itu curang. Tatmadaw menuding ada setidaknya 8 juta pemilih palsu yang terdaftar dalam pemilu lalu.
Selain Suu Kyi, Tatmadaw menahan sejumlah pejabat pemerintahan sipil lain, seperti Presiden Myanmar, Win Myint, dan sejumlah tokoh senior partai berkuasa, NLD.
-
NASIONAL23/06/2026 08:30 WIBKetua BEM FH UBK Ngaku Terima Rp 20 Juta dari Oknum Polisi Jelang Demo
-
POLITIK23/06/2026 16:15 WIBRoy Suryo dan Dokter Tifa Dapat Penagguhan, Analis Sebut Jokowi Tertekan
-
NASIONAL23/06/2026 17:16 WIBIstana akan Telusuri Dugaan Mahasiswa UBK Terima Uang Usai Demo dan Audiensi dengan Wapres
-
POLITIK23/06/2026 17:01 WIBDjarot: Jokowi Itu Siapkan Gibran Jadi Presiden Ketimbang Dukung Dua Periode Prabowo
-
POLITIK23/06/2026 11:00 WIBAHY Wacana Prabowo Gibran 2 Periode Masih Terlalu Dini
-
DUNIA23/06/2026 12:00 WIBAS Siapkan Rudal Tomahawk di Jepang
-
NASIONAL23/06/2026 17:30 WIBUU Polri Baru Resmi Berlaku, Polri Siapkan Aturan Turunan
-
RAGAM23/06/2026 14:30 WIBBakar Sampah Bisa Didenda Rp5 Miliar

















