Connect with us

OASE

Al-Qur’an Tak Pernah Larang Kritik Pemimpin

Aktualitas.id -

Ilustrasi kritik kepemimpin, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Masih banyak anggapan di tengah masyarakat bahwa mengkritik pemimpin merupakan tindakan yang dilarang dalam Islam. Namun, berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi menunjukkan bahwa pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Islam justru memberikan ruang bagi umat untuk menyampaikan kritik kepada pemimpin sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar, selama dilakukan dengan niat memperbaiki keadaan, berlandaskan kejujuran, serta disampaikan secara santun dan penuh hikmah.

Salah satu dalil yang kerap dijadikan landasan adalah firman Allah dalam QS Ali ‘Imran ayat 104 yang memerintahkan umat Islam untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Perintah tersebut berlaku secara umum, termasuk ketika menghadapi kebijakan atau tindakan pemimpin yang dinilai menyimpang dari nilai keadilan.

Lebih tegas lagi, Allah SWT mengisahkan bagaimana Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan mendatangi Firaun, sosok penguasa yang zalim. Meski demikian, Allah tetap memerintahkan keduanya berbicara dengan perkataan yang lemah lembut (qawlan layyina) sebagaimana dijelaskan dalam QS Thaha ayat 43–44.

Pesan ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang penyampaian kritik, tetapi mengajarkan cara menyampaikannya dengan etika yang tinggi.

Di sisi lain, QS Asy-Syura ayat 42 memberikan peringatan keras kepada siapa pun yang berbuat zalim dan melampaui batas. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kezaliman, termasuk apabila dilakukan oleh pemegang kekuasaan, tidak mendapatkan pembenaran.

Agama Dibangun di Atas Nasihat

Prinsip kritik yang membangun juga diperkuat oleh sabda Nabi Muhammad SAW:

“Agama adalah nasihat.”

Ketika para sahabat bertanya, “Untuk siapa?”, Rasulullah menjawab bahwa nasihat diberikan kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh umat Islam (HR Muslim).

Hadis tersebut menegaskan bahwa memberikan nasihat kepada pemimpin merupakan bagian dari ajaran agama, bukan tindakan yang dilarang selama dilakukan sesuai tuntunan syariat.

Kritik Bukan Hinaan

Dalam penjelasan Darul Ifta Jordan, kritik dipahami sebagai penyampaian nasihat dan masukan setelah melalui pertimbangan serta pengamatan yang matang. Kritik dipandang sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar karena bertujuan menghadirkan perbaikan dan kemaslahatan.

Namun Islam juga menetapkan batas yang jelas. Kritik tidak boleh berubah menjadi fitnah, ujaran kebencian, penghinaan, caci maki, maupun penyebaran informasi yang tidak benar.

Lima Etika Mengkritik Pemimpin Menurut Islam

Para ulama merumuskan sejumlah etika penting dalam menyampaikan kritik kepada pemimpin, yaitu:

Kritik diniatkan sebagai nasihat.

Bertujuan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Disampaikan dengan hikmah, santun, dan penuh adab.

Berdasarkan fakta, kejujuran, dan kebenaran.

  • Tidak mengandung fitnah, penghinaan, caci maki, ejekan, atau prasangka buruk.

Dengan prinsip-prinsip tersebut, kritik tidak menjadi sarana permusuhan, melainkan menjadi instrumen kontrol sosial yang mendorong terciptanya pemerintahan yang lebih adil, transparan, dan berpihak kepada kemaslahatan masyarakat.

Pada akhirnya, ajaran Islam menempatkan kritik sebagai bagian dari tanggung jawab moral umat. Bukan untuk menjatuhkan atau mempermalukan pemimpin, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar kekuasaan tetap berjalan di atas nilai keadilan, kebenaran, dan amanah. (Mun)

TRENDING