Berita
Trump Prediksi Kematian akibat Corona di AS Sebanyak 100 Ribu
Presiden Donald Trump memprediksi sebanyak 100 ribu pasien di Amerika Serikat mungkin meninggal dunia akibat virus corona. Angka itu lebih tinggi dari prediksi Trump sebelumnya yakni sebanyak 50 ribu hingga 60 ribu jiwa. “Kita mungkin akan kehilangan 75 ribu, 80 ribu, sampai 100 ribu orang (akibat corona). Ini adalah hal yang mengerikan,” kata Trump dalam […]
Presiden Donald Trump memprediksi sebanyak 100 ribu pasien di Amerika Serikat mungkin meninggal dunia akibat virus corona. Angka itu lebih tinggi dari prediksi Trump sebelumnya yakni sebanyak 50 ribu hingga 60 ribu jiwa.
“Kita mungkin akan kehilangan 75 ribu, 80 ribu, sampai 100 ribu orang (akibat corona). Ini adalah hal yang mengerikan,” kata Trump dalam wawancara yang disiarkan FOX News pada Minggu (3/5).
Meski begitu, Trump berharap angka kematian corona di AS tidak akan mencapai prediksinya. Ia yakin bahwa vaksin yang tengah dikembangkan AS dan diprediksi siap digunakan akhir tahun ini bisa menekan penularan dan kematian corona di Negeri Paman Sam.
Padahal, sejumlah ahli kesehatan publik AS termasuk salah salah satunya ahli penyakit menular terkemuka, Dr. Anthony Fauci, menganggap bahwa vaksin corona tampaknya masih membutuhkan waktu satu tahun hingga 18 bulan lagi untuk bisa dikembangkan.
“Saya pikir kita (AS) akan memiliki vaksin (Corona) pada akhir tahun ini. Para dokter akan mengatakan jangan menyatakan hal seperti itu. Tapi saya akan mengatakan apa yang saya pikirkan. Dan saya pikir kita akan memiliki vaksin cepat atau lambat,” kata Trump.
Walaupun Trump mengakui AS masih dihantui lonjakan kasus corona baru dan angka kematian, politikus Partai Republik itu berkeras membela bahwa pencabutan kebijakan pembatasan pergerakan dan karantina wilayah merupakan hal yang tepat dilakukan saat ini.
Sebelumnya, Trum telah mengumumkan rencana pemerintah untuk melonggarkan kebijakan pembatasan pergerakan secara bertahap. Puluhan negara bagian AS juga telah melonggarkan sebagian kebijakan pembatasan pergerakan dan membuka aktivitas bisnis secara bertahap.
“Kami tidak bisa tetap menutup diri sebagai sebuah negara. Kita tidak akan memiliki apa-apa lagi,” kata Trump seperti dilansir Channel News Asia.
Hingga Senin (4/5), AS masih menemukan lonjakan kasus corona. Berdasarkan statistik Worldometer, AS masih menjadi negara dengan kasus corona tertinggi di dunia yakni mencapai 1.188.122 kasus dan 68.598 kematian.
Negara bagian New York menjadi wilayah dengan kasus corona tertinggi di AS yakni mencapai 321.833 pasien dan 24.576 kematian.
Kemarin, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menuturkan masih menemukan lonjakan angka kematian sebanyak 1.452 pasien dalam 24 jam.
Sejumlah ahli menganggap minimnya pemeriksaan dan tes corona mengindikasikan bahwa jumlah kasus terinfeksi lebih banyak lagi dari yang sudah terlaporkan.
Selain itu, ketidakpatuhan sebagian warga AS terkait kebijakan menjaga jarak dan pembatasan pergerakan lainnya turut memicu lonjakan kasus dan kematian akibat corona di Negeri Paman Sam.
-
FOTO21/04/2026 23:59 WIBFOTO: Pemerintah Genjot Pembangunan Hunian Layak di NTT
-
NASIONAL22/04/2026 00:01 WIBBahas Ketahanan Ekonomi, Presiden Prabowo Terima Ketua DEN
-
PAPUA TENGAH21/04/2026 23:30 WIBFreeport Grassroots Tournament 2026 Kembangkan Bakat Sepak Bola Anak Papua
-
OASE22/04/2026 05:00 WIBKiamat Pasti Datang! Ini Deretan Ayat Al-Qur’an yang Mengguncang Jiwa
-
JABODETABEK21/04/2026 22:30 WIBPolisi Tangkap Pengedar, Ganja 3,6 Kg Berhasil Disita
-
NASIONAL22/04/2026 11:00 WIBHadapi Dampak Gejolak Global, Kapolri Perintahkan 7.000 Pasukan Brimob Siaga Penuh
-
JABODETABEK22/04/2026 08:30 WIBMaling Motor Kebayoran Lama Punya Kode Angka 7
-
JABODETABEK22/04/2026 06:30 WIBKepergok Suara Berisik, Maling Bengkel Langsung Diringkus Warga